Antara Rongsokan, Jodoh, dan Berangkat Haji

Kompas.com - 07/10/2012, 06:05 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah teriknya matahari yang menyengat dan hiruk-pikuk arus lalu lintas Jakarta, Fatturochman (47), tak menyerah untuk terus mencari sesuap nasi. Tanpa beralaskan sandal, ia terus menarik gerobaknya yang menjadi sumber mata pencaharian dari penjuru Menteng hingga Kuningan, Jakarta Selatan.

Dari rumah ke rumah, dari satu tong sampah ke tong sampah lain, ia tengok isinya dan lewati untuk mencari yang barang rongsokan. Ya, mencari barang bekas adalah mata pencaharian untuk mengisi perut pria asal Pemalang, Jawa Tengah ini.

Pria yang akrab disapa Rochman ini sudah 26 tahun merantau ke Jakarta dan pekerjaannya untuk mencari barang bekas sudah dilakoninya selama 25 tahun.

Setahun riwayat hidupnya, ia gunakan untuk pekerjaan lainnya, seperti mencari busa kapuk dan konveksi. Namun, pekerjaannya di lingkungan konveksi tak bertahan lama karena ia mengaku tidak memiliki keahlian dalam menjahit.

Jika melihat fisiknya, pria tamatan Sekolah Dasar ini memang terlihat berbeda dari yang lainnya. Seringnya Rochman tidak menggunakan alas kaki untuk bekerja, membuat kakinya dipenuhi oleh penyakit kulit, tampak di punggung kakinya, ada semacam bisul yang tampak membesar dan berdarah.

Bagian dadanya terlihat membesar seperti ada penyakit yang bersarang di dalam tubuhnya dan postur tubuhnya pun tidak setara dengan teman-teman sejawatnya. Dengan postur tubuh yang dimilikinya itu, Rochman mengaku tidak mengetahui penyakit apa yang diidapnya.

"Saya juga nggak tahu. Tapi dulu pernah diceritain, katanya pas bayi, saya pernah jatuh dari gendongan, tidak pernah diurut jadinya besar begini," kata Rochman dengan logat medoknya, saat ditemui Kompas.com di pinggiran Menteng, Jakarta, Sabtu (6/10/2012).

Namun, keterbatasan fisik itu tidak membuatnya minder. Jika dibandingkan dengan teman-teman lainnya sesama pencari barang rongsokan yang memiliki fisik sempurna, Rochman terlihat lebih pekerja keras dan rajin. Teman-temannya hanya terlihat saling bercanda dan menghisap rokok.

Hari itu, Rochman juga belum mendapatkan penghasilan sama sekali, padahal matahari sudah hampir tenggelam. Namun, Rochman tidak putus asa dengan kejadian itu dan dianggapnya sudah biasa ia tidak mendapatkan penghasilan sehari.

"Hari ini sedang sepi, kalau sepi ya berarti nggak dapet apa-apa, jadi nggak makan. Tapi kalau lagi rame, biasanya dapet Rp 20 ribu sampai Rp 100 ribu. Tapi itu biasanya sehari aja, besoknya sepi lagi ha...ha..ha...," kata Rochman sambil tertawa lirih.

Untuk makan, Rochman mengaku sangat bersyukur apabila sehari itu ia bisa mengisi perutnya. Karena, bukan tak jarang ia juga berpuasa. "Alhamdulillah kalau bisa makan, sehari bisa makan sekali itu sudah nikmat yang luar biasa dari Gusti Allah. Kalau tidak ya juga disyukuri, berarti harus kerja lebih rajin lagi nantinya," ujarnya.

Sejak kecil, Rochman sudah ditinggal oleh kedua orangtuanya. Rochman hidup sebatang kara dan pada akhirnya memilih untuk mengadu nasib di Jakarta.

Di usianya yang hampir menginjak setengah abad itu, mirisnya, Rochman belum berkeluarga. Ia belum pernah menikah dan belum memiliki anak. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, terbesit keinginan untuk menikah dan memiliki keluarga kecil.

Ia selalu berpikir positif atas keadaannya saat ini. Walaupun belum menikah, ia tidak pernah berpikir negatif tentang keterbatasan fisiknya yang membuatnya 'menjomblo' hingga sekarang. Ia meyakini, Tuhan sudah menggariskan jodoh istri dan jodoh anak kepadanya.

"Yah namanya nasib mau bagaimana lagi, mbak. Kalau menikah nanti pasti juga butuh uang. Sekarang uang saya juga habis buat makan sehari-hari. Mungkin jodoh saya nanti dikasihnya kalau saya sudah jadi orang kaya, jadi bisa sekolahin anak-anak saya sampai jadi Presiden," ujar Rochman seraya tertawa.

Ia mengaku, dengan keterbatasan fisiknya itu, tak pernah sedikitpun terbesit dalam pikirannya untuk menjadi seorang pengemis. Padahal, menjadi pengemis dengan keadaan seperti itu, tentunya akan menghasilkan rupiah yang sangat menggiurkan.

"Nggak, saya nggak pernah mau ngemis, mbak. Tapi kalau ada yang kasih saya nasi ya alhamdulillah, anggap rezeki. Tapi, kalau jadi pengemis, saya nggak mau. Malahan, saya pengen banget bisa cari pekerjaan lain yang lebih layak, tapi sekarang jodoh saya ya gerobak ini, mbak," katanya.

Ia juga mengatakan selama hidup di Jakarta ini ia belum memiliki tempat tinggal yang tetap. Ia masih hidup nomaden menumpang dengan temannya. Terkadang di Kampung Menteng Atas, Senen, atau di rumah kontrakan temannya di pinggir rel Manggarai, Jakarta Selatan.

Rochman pun memiliki cita-cita mulia di bulan Haji esok, ia mendapat rezeki untuk menunaikan Rukun Islam yang ke-lima meskipun hal itu sangat kecil kemungkinannya. "Pengennya naik haji bareng bapak sama ibu, tapi nggak kesampaian," ujar Rochman.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau