Warga Gorontalo Prihatin Letusan Gunung Lokon

Kompas.com - 07/10/2012, 23:52 WIB

GORONTALO, KOMPAS.com - Sejumlah warga Gorontalo, mengaku prihatin dengan bencana letusan gunung Lokon di Sulawesi Utara (Sulut), yang tidak pernah berhenti.

"Hampir setiap saat kami dengar dan lihat di TV, gunung Lokon di Tomohon selalu meletus dan mengeluarkan debu vulkanik," kata Karim, warga Limboto, Kabupaten Gorontalo, Minggu (7/10/2012).

Belum lagi ditambah dengan dua gunung aktif lainnya di Sulut, yakni Gunung Soputan (Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara) serta Gunung Karangetang (Sitaro).

Selain dampak yang membahayakan pada keselamatan manusia, juga turut mengganggu aktifitas warga.

Yamin, warga Atinggola, Gorontalo Utara, mengaku khawatir akan dampak letusan gunung Lokon itu, karena ada keluarga yang tinggal di Tomohon. "Keluarga saya sudah tinggal lama di Tomohon dan menjadi pedagang," katanya.

Dirinya selalu menelpon keluarganya ketika mendengar gunung Lokon meletus lagi dengan mengeluarkan debu vulkanik atau bahaya lainnya.

"Hanya saja keluarga saya selalu menjawab tidak ada masalah luar biasa. Kalau nantinya ada instruksi pemerintah untuk mengungsi, baru mereka melakukannya," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau