Menteri Pertahanan AS Leon Panetta mengungkapkan hal itu dalam jumpa pers di Montevideo, Peru, Sabtu (6/10). Jumpa pers itu dihadiri Menteri Pertahanan Peru Pedro Cateriano dan digelar seusai bertemu dengan Presiden Ollanta Humala.
Pernyataan Panetta muncul tidak lama setelah Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan memperingatkan bahwa negaranya kini tidak jauh dari ambang perang dengan Suriah. Erdogan, Jumat lalu, memperingatkan Damaskus agar tidak menguji ”batas dan tekad” Turki.
Ketika Panetta menyampaikan kekhawatiran tentang konflik
Dari Ankara, Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu menegaskan, Wakil Presiden Suriah Faruq al-Shara adalah sosok yang paling tepat untuk menggantikan Bashar al-Assad sebagai kepala pemerintahan transisi Suriah. Dia tidak spesifik menyebut alasannya, tetapi sosok Shara dinilai bisa mengakhiri perang saudara.
”Faruq al-Shara adalah orang yang masuk akal dan berhati nurani. Dia tidak terlibat dalam pembantaian di Suriah. Tidak ada orang yang mengerti sistem (Suriah) lebih baik daripada dia,” kata Davutoglu, Sabtu, di saluran televisi publik, TRT.
Menlu Turki itu menekankan bahwa oposisi Suriah ”cenderung untuk menerima Shara” sebagai pemimpin masa depan pemerintahan Suriah. Shara adalah tokoh Muslim Sunni paling menonjol dalam lingkaran pemerintahan yang didominasi minoritas Alawite. Shara dipercaya rezim dan pernah menjadi menteri luar negeri selama 15 tahun sebelum menjadi wakil presiden pada 2006.
Laporan media menyebutkan, Shara telah membelot pada Agustus, tetapi laporan itu disangkal Damaskus. Beberapa pemimpin oposisi mengatakan, Shara tampaknya berada di bawah tahanan rumah di Suriah. Davutoglu yakin, Wakil Presiden Suriah masih ada di Suriah.
Hubungan antara Ankara dan Damaskus menjadi tegang sejak awal konflik di Suriah pada Maret 2011. Situasi ini memburuk tajam setelah pasukan Suriah menembakkan roket mereka hingga melintasi perbatasan kedua negara dan menewaskan lima warga Turki, pekan lalu.
Turki, yang berbatasan sepanjang 900 kilometer dengan Suriah, kini menampung sekitar 100.000 pengungsi Suriah. Turki juga secara terbuka mendukung pasukan oposisi, yakni Tentara Pembebasan Suriah (FSA), untuk penggulingan Assad. PBB telah mengutuk Suriah karena telah menembaki wilayah Turki.
Dari dalam Suriah dilaporkan, pertempuran sengit antara militer rezim dan pasukan oposisi terjadi di berbagai tempat, selain di Provinsi Aleppo juga di Raqa, provinsi yang berbatasan dengan Turki. Di kota Aleppo, kota terbesar Suriah, militer menembaki benteng pertahanan oposisi.
Aktivis melaporkan, aksi pengeboman di Aleppo dipusatkan di Distrik Sakhur di timur dan Kalasseh di barat daya kota itu. Selain itu, pertempuran sengit antara pasukan oposisi dan rezim Suriah di Distrik Hanano dan Midan. Aktivis belum merinci jatuhnya korban dalam pertempuran terbaru itu.
Organisasi Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) melaporkan, pasukan rezim, Minggu (7/10), menyerang kota Tal-Abyad di Provinsi Raqa yang berada di perbatasan dengan Turki. Wilayah ini berada dalam kekuasaan pasukan oposisi.
Pertikaian bersenjata antara oposisi dan militer Assad juga berlangsung di Damaskus, ibu kota Suriah. Aleppo dan Damaskus telah menjadi sasaran serangan oposisi karena keberhasilan dan kegagalan mereka ditentukan di dua kota ini.
SOHR mengatakan, 10 mayat ditemukan di Provinsi Damaskus, Sabtu. Mayat itu ditemukan di Hameh, tidak lama setelah militer mengambil alih kota itu dari oposisi. Televisi Pemerintah Suriah mengatakan, ”Hameh dan Qudsaya di Damaskus telah dibersihkan dari teroris bersenjata.”