Kontak Senjata Bisa Melebar

Kompas.com - 08/10/2012, 03:39 WIB

Montevideo, Minggu - Berlanjutnya kontak senjata antara Turki dan Suriah memicu kecemasan baru; konflik bisa meningkat dan meluas ke negara-negara tetangga. Amerika Serikat akan menggunakan semua saluran diplomatiknya untuk menyuarakan kekhawatiran agar konflik tak meluas.

Menteri Pertahanan AS Leon Panetta mengungkapkan hal itu dalam jumpa pers di Montevideo, Peru, Sabtu (6/10). Jumpa pers itu dihadiri Menteri Pertahanan Peru Pedro Cateriano dan digelar seusai bertemu dengan Presiden Ollanta Humala.

Pernyataan Panetta muncul tidak lama setelah Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan memperingatkan bahwa negaranya kini tidak jauh dari ambang perang dengan Suriah. Erdogan, Jumat lalu, memperingatkan Damaskus agar tidak menguji ”batas dan tekad” Turki.

Ketika Panetta menyampaikan kekhawatiran tentang konflik senjata yang kian meningkat antara Turki dan Suriah, saat yang sama berlangsung kontak fisik di di perbatasan. Selain kontak senjata antara Turki dan Suriah, militer Damaskus pun terlibat bentrok dengan oposisi Suriah.

Sosok yang tepat

Dari Ankara, Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu menegaskan, Wakil Presiden Suriah Faruq al-Shara adalah sosok yang paling tepat untuk menggantikan Bashar al-Assad sebagai kepala pemerintahan transisi Suriah. Dia tidak spesifik menyebut alasannya, tetapi sosok Shara dinilai bisa mengakhiri perang saudara.

”Faruq al-Shara adalah orang yang masuk akal dan berhati nurani. Dia tidak terlibat dalam pembantaian di Suriah. Tidak ada orang yang mengerti sistem (Suriah) lebih baik daripada dia,” kata Davutoglu, Sabtu, di saluran televisi publik, TRT.

Menlu Turki itu menekankan bahwa oposisi Suriah ”cenderung untuk menerima Shara” sebagai pemimpin masa depan pemerintahan Suriah. Shara adalah tokoh Muslim Sunni paling menonjol dalam lingkaran pemerintahan yang didominasi minoritas Alawite. Shara dipercaya rezim dan pernah menjadi menteri luar negeri selama 15 tahun sebelum menjadi wakil presiden pada 2006.

Laporan media menyebutkan, Shara telah membelot pada Agustus, tetapi laporan itu disangkal Damaskus. Beberapa pemimpin oposisi mengatakan, Shara tampaknya berada di bawah tahanan rumah di Suriah. Davutoglu yakin, Wakil Presiden Suriah masih ada di Suriah.

Hubungan antara Ankara dan Damaskus menjadi tegang sejak awal konflik di Suriah pada Maret 2011. Situasi ini memburuk tajam setelah pasukan Suriah menembakkan roket mereka hingga melintasi perbatasan kedua negara dan menewaskan lima warga Turki, pekan lalu.

Turki, yang berbatasan sepanjang 900 kilometer dengan Suriah, kini menampung sekitar 100.000 pengungsi Suriah. Turki juga secara terbuka mendukung pasukan oposisi, yakni Tentara Pembebasan Suriah (FSA), untuk penggulingan Assad. PBB telah mengutuk Suriah karena telah menembaki wilayah Turki.

Dari dalam Suriah dilaporkan, pertempuran sengit antara militer rezim dan pasukan oposisi terjadi di berbagai tempat, selain di Provinsi Aleppo juga di Raqa, provinsi yang berbatasan dengan Turki. Di kota Aleppo, kota terbesar Suriah, militer menembaki benteng pertahanan oposisi.

Aktivis melaporkan, aksi pengeboman di Aleppo dipusatkan di Distrik Sakhur di timur dan Kalasseh di barat daya kota itu. Selain itu, pertempuran sengit antara pasukan oposisi dan rezim Suriah di Distrik Hanano dan Midan. Aktivis belum merinci jatuhnya korban dalam pertempuran terbaru itu.

Organisasi Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) melaporkan, pasukan rezim, Minggu (7/10), menyerang kota Tal-Abyad di Provinsi Raqa yang berada di perbatasan dengan Turki. Wilayah ini berada dalam kekuasaan pasukan oposisi.

Pertikaian bersenjata antara oposisi dan militer Assad juga berlangsung di Damaskus, ibu kota Suriah. Aleppo dan Damaskus telah menjadi sasaran serangan oposisi karena keberhasilan dan kegagalan mereka ditentukan di dua kota ini.

SOHR mengatakan, 10 mayat ditemukan di Provinsi Damaskus, Sabtu. Mayat itu ditemukan di Hameh, tidak lama setelah militer mengambil alih kota itu dari oposisi. Televisi Pemerintah Suriah mengatakan, ”Hameh dan Qudsaya di Damaskus telah dibersihkan dari teroris bersenjata.” (AFP/AP/REUTERS/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau