Kpk vs polri

Isi Pidato Presiden SBY Harus Konkret

Kompas.com - 08/10/2012, 08:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sekretaris Jenderal Transparansi Internasional Indonesia (TII) Teten Masduki berharap isi pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono malam ini konkret dan menyelesaikan masalah.

"Presiden harus berani memerintahkan Kepala Kepolisian Negara RI Jenderal (Pol) Timur Pradopo untuk menyerahkan kasus simulator ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan menghentikan kriminalisasi terhadap penyidik Polri yang ada di KPK," tutur Teten saat dihubungi Kompas, Senin (8/10/2012) pagi ini.

Presiden Yudhoyono malam ini direncanakan berpidato untuk menyikapi perseturuan antara KPK dan Polri akibat kasus dugaan korupsi simulator SIM yang melibatkan mantan Kepala Korps Lalu Lintas Polri Inspektur Jenderal (Pol) Djoko Susilo dan sejumlah pejabat Polri.

Sebelumnya, Sabtu dan Minggu kemarin, massa pendukung KPK berunjuk rasa. Mereka mempertanyakan keberadaan Presiden SBY, bukan hanya secara fisik, melainkan juga komitmen dan kepemimpinannya dalam menyikapi ketegangan antara Polri dan KPK.

"Saya kira isi pidato harus ada kebijakan konkret yang bisa menyembuhkan emosi masyarakat yang dilukai para perusak KPK. Kalau tidak konkret isinya atau malah mencari pembenaran, kenapa Presiden diam saja selama ini," ujarnya.

Teten memperkirakan, apabila isi pidato yang ditunggu rakyat tak sesuai dengan harapan, ketidakpuasan masyarakat terhadap SBY justru akan semakin membesar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau