Sisi lain istana

SBY, Hatta Rajasa, dan Adhyaksa Dault

Kompas.com - 09/10/2012, 03:11 WIB

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ketika membuka rapat pimpinan nasional Kamar Dagang dan Industri di Jakarta, Selasa (2/10), mengatakan, studi-studi mengatakan prospek perekonomian negeri kita di tahun-tahun mendatang tetap tinggi, Indonesia masih bisa meningkatkan investasinya. ”Tidak ada studi mana pun yang mengatakan Indonesia adalah negara gagal,” ujar Presiden.

Ketika mengadakan perjalanan ke Baku, Azerbaijan; dan Washington DC, Amerika Serikat, bulan lalu, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa ketika menjelaskan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2015 juga menyebutkan Indonesia tidak sedang menuju ke negara gagal. Malah sebaliknya, Indonesia akan menjadi salah satu negara yang membawa kebangkitan peradaban Asia. Indonesia akan menjadi salah satu negara termaju di Asia, bahkan dunia.

Ketika menguraikan hal itu, Hatta juga menyebut tentang buku mantan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Kabinet Indonesia Bersatu jilid I Adhyaksa Dault berjudul Menghadang Negara Gagal, Sebuah Ijtihad Politik. Ucapan Hatta membuat buku mantan menteri kabinet SBY-Jusuf Kalla yang punya cerita-cerita jenaka tentang beberapa sidang kabinet itu menjadi menarik untuk dibaca.

Dalam pengantar yang ditulisnya sendiri, Adhyaksa mengatakan, akhir Juni lalu, sebuah lembaga riset bernama Fund for Peace (FFP) yang berpusat di Washington DC mengeluarkan indeks negara gagal atau failed state index. FFP menempatkan Indonesia di peringkat ke-63 dari 178 negara di seluruh dunia. Itu artinya Indonesia termasuk kategori negara-negara dalam bahaya (in danger) menuju negara gagal.

Adhyaksa juga mengutip lembaga konsultan independen di Hongkong, Political and Economy Risk Consultancy, yang menyebutkan Indonesia hingga 2011 meraih skor tertinggi yang mendekati angka sempurna sebagai negara terkorup di Asia.

”Bahkan, tanpa survei dari lembaga luar negeri sekalipun, kita yang hidup sehari-hari di negeri sendiri dapat merasakan betapa banyak masalah bangsa ini yang harus diselesaikan untuk menjadi negara beradab, maju, dan sejahtera,” katanya.

Mantan menteri yang berkumis ini juga mengatakan, rezim pemerintahan di Indonesia boleh saja gagal, tetapi Republik Indonesia tidak akan pernah menjadi sebuah negara gagal sebab eksistensi NKRI ada di pundak rakyat, bukan di tangan sebuah rezim pemerintahan.

Mari kita baca tulisan Adhyaksa Dault, Hatta Rajasa, dan SBY. Selamat pagi. (J Osdar)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau