Pemerintah Blokir 83 Situs Toko Obat Ilegal

Kompas.com - 09/10/2012, 10:31 WIB

shutterstock Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah akan menutup 83 situs web (website) yang menjual obat ilegal dan obat palsu berdasarkan hasil Operasi Pangea V yang digelar pada 25 September-2 Oktober lalu.

Operasi Pangea adalah aksi internasional yang menyasar penjualan produk obat ilegal termasuk obat palsu secara online. Keikutsertaan Indonesia dalam operasi ini adalah kali kedua sejak operasi itu digelar sejak lima tahun yang lalu.

"Kami akan mengirimkan suratnya hari ini, ke Kementerian Kominfo agar situs website yang teridentifikasi menawarkan dan memasarkan produk obat ilegal secara online ini untuk diblokir," kata Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Lucky S. Slamet dalam temu media di Jakarta, Senin (8/10/2012).

Sebanyak 100 negara ikut serta dalam operasi Pangea V yang dikoordinasikan oleh International Criminal Police Organization (ICPO)- Interpol dan di Indonesia dilakukan secara terpadu antara BPOM, Kepolisian, Kejaksaan Agung, Kementerian Kominfo dan Ditjen Bea Cukai Kementerian Keuangan dalam kerangka Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Obat dan Makanan Ilegal.

Pada saat pelaksanaan operasi, BPOM melakukan pemeriksaan atas empat sarana distribusi, yaitu tiga sarana di DKI Jakarta dan satu sarana di wilayah Yogyakarta.

Sebanyak 66 item obat ditemukan dan disita dari operasi tersebut yang terdiri atas 40 item produk kategori disfungsi ereksi, 3 item produk perangsang libido wanita, 4 item anestesi lokal, 8 item obat tradisional penurun berat badan, dan 2 item suplemen makanan ilegal serta 9 item produk kategori lainnya dengan nilai keekonomian ditaksir sekitar Rp 150 juta.

"Tren temuan Operasi Pangea V di Indonesia ini hampir sama dengan tren temuan Operasi Pangea IV tahun 2011 yaitu obat disfungsi ereksi, diikuti jenis obat penurun berat badan dan perangsang libido wanita," kata Lucky.

Dua orang pelaku yang memasarkan produk obat ilegal secara online juga telah ditahan di Bareskrim Polri dan telah dilakukan penyitaan terhadap seluruh barang bukti untuk diproses secara hukum.
   
Lucky meminta kepada masyarakat untuk membantu melaporkan praktik penjualan obat dan makanan ilegal baik secara online maupun tidak untuk membantu penertiban karena efek dari obat dan makanan ilegal itu berbahaya bagi manusia terutama kalau dikonsumsi dalam jangka waktu lama.

"Untuk obat pelangsing yang disita saat ini kandungannya sedang dalam pengujian, tapi kajian kami dari produk serupa mengandung bahan kimia yang tidak diperbolehkan yang efek sampingnya mulai dari denyut jantung meningkat, gangguan ginjal, kejang, sulit tidur dan lainnya," papar Lucky.

Jejaring media sosial juga tidak akan luput dari pantauan Satgas karena media itu juga seringkali melakukan penjualan obat ilegal.

"Social media ini target selanjutnya. Kami memang akan memperluas cakupan operasi, baik dari daerah maupun jenis medianya. Kita lakukan pemantauan sepanjang tahun," kata Lucky.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau