Riset iptek

Peraih Nobel Sebarkan "Virus" Sains

Kompas.com - 10/10/2012, 03:57 WIB

Jakarta, Kompas - Peraih Nobel Bidang Kedokteran 2005, Barry J Marshall, datang ke Indonesia untuk menyebarkan ”virus” sains. Ia tidak hanya memberi ceramah dan memotivasi generasi muda, tetapi juga menjajaki kerja sama penelitian terkait Helicobacter pylori yang mengantarkan Marshall dan rekannya, J Robin Warren, mendapatkan penghargaan Nobel Bidang Kedokteran.

Kedatangan pengajar dari University of Western Australia (UWA) itu ke Indonesia dalam rangkaian acara festival Science for Our Future yang diselenggarakan Kedutaan Besar Australia, 8-12 Oktober 2012, di Jakarta. Marshall mendapat penghargaan Nobel atas hasil risetnya yang menemukan bahwa Helicobacter pylori menjadi salah satu penyebab sakit mag. Selain Marshall, hadir sejumlah ilmuwan lain dari UWA, seperti Kadambot Siddique (pertanian), Tim St Pierre (kedokteran), Brendan Waddell (kedokteran), dan Carmen Lawrence (psikologi).

Dalam kegiatan itu, Marshall bersama ilmuwan lain mengadakan pertemuan meja bundar dengan para peneliti dari Lembaga Eijkman Jakarta. Mereka terlibat dalam festival berisi pameran interaktif, eksperimen, dan presentasi dari para ilmuwan Australia bagi ratusan pelajar. Sejumlah murid sekolah diundang untuk ikut makan siang dan berbincang dengan para ilmuwan.

Ketika ditemui, Selasa (9/10), Marshall mengatakan, ia tengah menjajaki kerja sama dengan para peneliti Lembaga Eijkman Jakarta terkait riset dasar genetika Helicobacter. ”Pendekatan di tingkat genetika bisa mengetahui sejarah dan perjalanan Helicobacter di populasi,” ujarnya.

Marshall mengungkapkan, generasi baru peneliti dapat tumbuh jika diberi ruang dan waktu. ”Peneliti perlu diberi kapasitas, waktu, dan ruang untuk meneliti. Tidak bisa mereka semata mengajar mahasiswa. Dengan demikian, peneliti dapat terus membuat prototipe yang dapat dikembangkan,” ujarnya.

Carmen Lawrence menyatakan, pengenalan sains sebaiknya paling tidak sejak usia sekolah lanjutan tingkat pertama. ”Agar menarik dan tidak membosankan, sains harus dikaitkan dengan cerita kehidupan dan pengalaman nyata anak dalam berelasi dengan lingkungannya,” kata Lawrence.

Hal senada dikemukakan Kadambot Siddique. ”Bidang pertanian, misalnya, agar menarik bisa dikaitkan dengan isu keamanan pangan dan perubahan iklim,” tuturnya. Semangat mendalami sains bisa ditumbuhkan dengan menghubungkannya dengan humanisme. Harapannya, generasi muda yang tertarik sains melihat ruang untuk berkontribusi bagi kemanusiaan. (INE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau