Atraksi Burung di Danau Limboto

Kompas.com - 10/10/2012, 10:54 WIB

Oleh Aris Prasetyo

Danau Limboto di perbatasan Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo lebih banyak dikenal sebagai salah satu danau kritis di Indonesia. Serbuan eceng gondok yang menutupi sebagian besar permukaan danau ibarat kanker ganas yang menggerogoti tubuh manusia. Siapa sangka, di tengah danau, ada atraksi aneka burung yang memukau.

Berangkat sore hari, sekitar pukul 16.00 Wita, menuju ke tengah-tengah danau, kita akan disuguhi aneka burung beterbangan di angkasa. Sesekali, burung-burung itu menyambar ke permukaan danau dan terbang kembali ke atas dengan ikan di paruh mereka.

Dengan tenang, burung-burung tersebut menikmati hasil buruan mereka di tiang bambu yang jumlahnya ratusan yang ditanam nelayan untuk membuat karamba.

Dari sekian banyak burung yang beterbangan di atas permukaan Danau Limboto, satu jenis yang paling menarik perhatian adalah elang bondol (Haliastur indus) yang berjumlah belasan. Burung ini termasuk dalam burung yang dilindungi. Dengan ciri khas warna putih pada bagian kepala hingga dada dan kecoklatan pada sayap sampai ekor, burung berparuh tajam tersebut berputar-putar melayang di angkasa. Dengan sorot mata tajam, ia mengamati calon mangsanya, yaitu ikan danau.

Selain elang bondol, burung kirik-kirik australia (Merops ornatus) seolah tak mau kalah. Burung yang berukuran lebih kecil dari elang bondol ini gerakannya lincah. Dengan paruh kecilnya yang panjang sekitar 3-4 sentimeter itu, sesekali burung itu menyambar ikan danau berukuran kecil dan menikmatinya di atas pancang bambu untuk keramba milik nelayan. Di antara burung lain di Danau Limboto, jenis ini memiliki warna paling beragam, yakni perpaduan kuning (leher), hitam (sekitar mata), hijau (punggung dan sayap), dan abu-abu (ekor).

Ada pula jenis burung yang suka bergerombol di Danau Limboto, yaitu kuntul kecil (Egretta garzetta) yang juga banyak ditemukan di sawah atau rawa. Dengan ciri khas warna putih pada seluruh tubuhnya, keelokan terlihat saat burung tersebut kaget dan serentak terbang dengan jumlah yang mencapai puluhan. Burung ini gemar bertengger bergerombol pada pancang bambu yang jumlahnya ratusan di Danau Limboto.

Sementara itu, jenis yang rajin melayang-layang di udara adalah jenis layang-layang api (Hirundo tahitica). Burung ini memiliki ciri khas warna biru tua pada punggung dan sayap yang kehitam-hitaman. Adapun warna leher burung ini merah kecoklatan dan putih pada bagian perut.

Selain keempat jenis burung di atas yang banyak ditemukan di Danau Limboto, ada juga jenis lain, seperti cangak merah (Ardea purpurea), dara laut sayap putih (Chlidonias leucopterus), mandar besar (Porphyrio porphyrio), bondol rawa (Lonchura malacca), dan blekok sawah (Ardeola speciosa). Semua burung-burung itu memiliki misi yang sama di Danau Limboto, yakni berburu ikan untuk menyambung hidup.

Faktor ikan

Menurut Eko Prastio Ramadhan, anggota staf lapangan Burung Indonesia di Gorontalo, sebuah organisasi nirlaba bidang pelestarian burung, Danau Limboto memiliki daya tarik bagi aneka burung di sana. Salah satu tujuan burung-burung tersebut adalah keberadaan ikan yang melimpah di dalam danau. Tak heran, elang bondol yang juga kerap ditemukan di laut tertarik untuk berburu ikan di Danau Limboto.

”Burung-burung di Danau Limboto termasuk kategori burung air, maksudnya burung yang bergantung pada keberadaan air untuk mencari makan. Sebab, di danau banyak ikan yang menjadi salah satu makanan burung-burung tersebut,” kata Eko, Sabtu (6/10/2012).

Banyaknya karamba untuk mengembangbiakkan ikan di Danau Limboto menjadi salah satu daya tarik kedatangan burung-burung tersebut. Para nelayan setempat mengembangbiakkan ikan nila di dalam karamba. Selain nila, ikan yang ada di Danau Limboto antara lain mujair, gabus, sepat, atau tawes. Namun, bagi peternak ikan di Danau Limboto, keberadaan burung-burung tersebut menjadi semacam hama.

”Tak jarang burung-burung berburu ikan yang masih kecil-kecil. Namun, kami tidak merasa terganggu dengan keberadaan mereka walaupun menjadi semacam hama. Mereka sudah seperti menjadi teman kami ketika menunggui karamba-karamba ini,” kata Norman Kalu (43), salah seorang nelayan di Danau Limboto.

Tak banyak yang tahu soal keberadaan aneka burung di tengah Danau Limboto. Biasanya, yang kerap berkunjung untuk menikmati atraksi burung di danau itu adalah para pehobi fotografi. Mereka kerap ke danau untuk memotret burung, terutama pada akhir pekan atau hari libur. Dengan menyewa perahu nelayan seharga Rp 50.000 per perahu selama dua jam, sudah memuaskan para pencinta burung atau penggemar fotografi berkeliling Danau Limboto.

”Waktu yang tepat untuk memotret burung di Danau Limboto adalah sore hari. Saat-saat itulah banyak burung berkumpul mencari ikan. Pemandangan di danau menjelang matahari tenggelam juga tak kalah indah,” ujar Adhy Winata (28), salah seorang penggemar fotografi di Gorontalo.

Hiburan tersendiri

Keberadaan aneka burung di Danau Limboto menjadi hiburan tersendiri di tengah-tengah ancaman lenyapnya danau seluas 2.500 hektar tersebut. Ya, oleh beberapa pakar lingkungan, Danau Limboto diperkirakan akan lenyap dalam kurun 10-15 tahun ke depan akibat tingginya sedimentasi di danau tersebut. Pada tahun 1930, kedalaman danau mencapai 12 meter. Kini, kedalaman danau menyisakan 2 meter-2,5 meter saja. Separuh permukaan danau yang tertutup oleh serbuan eceng gondok juga menjadi persoalan tersendiri.

Saat ini, Pemerintah Provinsi Gorontalo berupaya keras memulihkan Danau Limboto seperti sediakala dengan cara mengeruk endapan lumpur dan membuang eceng gondok ke daratan.

Jika itu berhasil, Danau Limboto akan semakin elok dengan pemandangan air yang luas tanpa eceng gondok serta dihiasi ratusan burung yang terbang di atasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau