Warga Kampung Apung Tak Ingin Banjir Permanen

Kompas.com - 10/10/2012, 14:10 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Saluran air yang terhambat membuat Kampung Apung di daerah Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat selalu tergenang air. Dataran yang terlalu rendah membuat air tidak bisa keluar dari wilayah tersebut. Tempat tinggal warga di kampung tersebut harus selalu ditinggikan atau menggunakan rumah panggung karena kedalaman air dari dasar sudah mencapai 1,5 meter.

"Di bawah rumah saya itu air, dalamnya 1,5 meter kalau musim kemarau panjang begini. Nah, nanti musim hujan bisa sampai 2 atau 2,5 meter," kata Usman (36), warga RT 10 RW 01 Kampung Apung, Cengkareng, Jakarta Barat di Jakarta, Rabu (11/10/2012).

Usman mengatakan, tahun 2011 lalu pemerintah sudah membuat saluran air yang mengarah ke rumah pompa di Pesing Poglar sepanjang 2 kilometer. Tetapi hanya gorong-gorongnya saja yang dibongkar tanpa ada kelanjutan untuk menyelesaikan program tersebut sehingga sampai saat ini masih terbengkalai.

"Rumah pompa katanya mau dibikin di Pesing Poglar. Trotoar sudah dibongkar, tapi pengerjaan saluran airnya nggak diteruskan. Akhirnya kalau musim hujan banyak motor yang kecemplung," katanya.

Usman mengatakan, tempat tinggalnya sudah terendam selama 20 tahun setelah banyak pabrik yang berdiri di sekeliling mereka dan membangun lebih tinggi dari tempat tinggal warga. Saluran air yang tidak lancar membuat air terbuang ke rumah-rumah warga yang datarannya lebih rendah. Ketika banjir besar terjadi pada tahun 2007, kata Usman, dia bersama-sama dengan warga lainnya membuat budi daya ikan lele di sekitar permukiman warga. Rumah warga yang sudah terendam mereka bersihkan dari sampah-sampah dan membuat kolam-kolam untuk ternak ikan lele.

Walaupun melakukan budi daya ikan lele di daerah banjir, Usman dan warga sekitar tidak memanfaatkan air yang membanjiri kolong rumah mereka sebagai air untuk mengisi kolam karena sudah tercemar dengan limbah. Mereka menggunakan air sumur untuk beternak ikan lele.

Menurut Usman, jika ada oknum yang mengatakan warga Kampung Apung tidak setuju permukimannya dikeringkan karena ada ternak lele, itu salah besar. Warga kampung Apung tetap ingin permukiman mereka dikeringkan agar bisa tertata rapi dan tidak kumuh karena banyak sampah di genangan air tersebut.

"Ya, kalau banjir kan sampahnya ikut masuk ke kampung ini. Airnya bisa surut dan mengalir, tapi sampahnya tetap di kampung ini," ungkapnya.

Menghadapi musim hujan, katanya, warga mulai memindahkan barang-barang elektronik ke lantai dua atau loteng-loteng rumah mereka. Ternak lele juga sudah menggunakan sistem kerek, sehingga kalau banjir melanda kawasan tersebut, bibit lele tidak terlepas.

Menanggapi masalah banjir permanen di Kampung Apung, Sudin PU Tata Air Jakarta Barat, Heryanto mengatakan, masalah kampung tersebut sudah ditangani oleh Dinas Pekerjaan Umum (DPU) DKI Jakarta. Penanganan kampung tersebut membutuhkan biaya besar sehingga harus dikelola langsung Pemerintah Propinsi DKI Jakarta.

"Daerah sana kan lebih rendah dari daerah sekitarnya. Sedangkan dana kami kan harus dibagi-bagi lagi ke yang lain. Kalau setengah-setengah ya tidak akan kering," kata Heryanto.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau