Kondisi Malala Stabil

Kompas.com - 11/10/2012, 03:02 WIB

PESHAWAR, RABU - Tim ahli bedah Pakistan sukses mengeluarkan sebuah peluru yang bersarang di kepala gadis usia 14 tahun, Malala Yousafzai, Rabu (10/10). Dia ditembak sehari sebelumnya karena dianggap berpemikiran Barat dan menentang Taliban.

Seusai pembedahan yang berlangsung beberapa jam, kondisi Malala dinyatakan telah stabil. Sebelumnya, Malala sempat akan dibawa ke luar negeri, salah satu pilihannya ke Dubai, Uni Emirat Arab, untuk menjalani perawatan secara lebih intensif.

Malala menjadi sasaran serangan yang dilakukan sekelompok orang bersenjata anggota Taliban, Selasa. Mereka menembaki bus sekolah yang ditumpangi Malala dalam perjalanan pulang dari sekolah di wilayah Lembah Swat, barat daya Pakistan. Malala tertembak di kepala. Dua temannya juga terluka akibat serangan ini, dan salah satunya masih dalam kondisi kritis.

Serangan Taliban terhadap gadis kecil itu dihujat sebagai serangan pengecut dan barbar. Kecaman keras mengalir dari berbagai penjuru, bahkan dari luar negeri.

Sosok Malala dikenal vokal dan berani memperjuangkan hak anak perempuan untuk bisa bersekolah di Pakistan. Namanya dikenal publik tahun 2009, saat baru berusia 11 tahun, setelah menulis buku harian untuk BBC Urdu tentang kehidupan di bawah rezim Taliban, yang mengendalikan Lembah Swat sejak tahun 2007.

Taliban berkuasa di wilayah itu hingga didesak mundur militer Pakistan, tahun 2009. Saat berkuasa, mereka menutup sekolah untuk anak perempuan, dan memberlakukan hukum yang menentang keras budaya Barat, antara lain melarang menyetel musik di dalam kendaraan.

Malala menulis buku hariannya dengan nama samaran Gul Makai. Identitas aslinya baru terungkap setelah Taliban meninggalkan Lembah Swat. Atas keberaniannya itu, Malala pada Agustus lalu dianugerahi Penghargaan Perdamaian Nasional.

Taliban menganggap sikap Malala menentang aturan mereka yang melarang anak perempuan bersekolah. Taliban menuduh Malala mempromosikan ajaran sekularisme di Pakistan. Seperti diwartakan The Australian, Taliban bersumpah akan kembali menyerang gadis itu jika kali ini dia selamat.

”Dia gadis berpemikiran Barat yang selalu menentang kami. Kami akan mengincar siapa saja yang menentang Taliban. Kami telah memperingatkan dia berkali-kali,” ujar juru bicara Tehrik- e-Taliban (Pakistan), Ehsanullah Ehsan.

Ehsanullah juga menyebut serangan kepada Malala sebagai pesan jelas bagi remaja Pakistan agar tidak mengikuti jejak Malala jika tidak ingin bernasib sama.

Kecaman

Serangan Taliban memicu kemarahan banyak kalangan. Mereka berkumpul di sejumlah kota di Pakistan, berunjuk rasa menyuarakan gerakan anti-Taliban. Mereka juga menggalang dukungan dan doa bagi Malala.

Demonstran terkonsentrasi di kota Peshawar, Multan, dan kampung halaman Malala di Mingora. Aksi besar lain direncanakan digelar di Lahore.

Kecaman keras juga datang dari Presiden Asif Ali Zardari dan Perdana Menteri Raja Pervez Ashraf. Pemerintah Pakistan akan menanggung biaya pengobatan Malala dan kedua rekannya serta melindungi keselamatan keluarga mereka.

Zardari menegaskan, serangan itu tak akan menghentikan upaya pemerintah memerangi kelompok militan. Aksi itu juga tidak akan menghentikan pemerintah mendukung pendidikan bagi anak perempuan.

Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan Jenderal Ashfaq Parvez Kayani menyebut Taliban telah gagal dan malah menjadikan Malala sebagai simbol perlawanan dan keberanian.

Dari Brussel, Belgia, Wakil Presiden Komisi Eropa Bidang Kebijakan Luar Negeri Catherine Ashton mengecam keras aksi brutal itu dan menyebutnya sebagai ”serangan keji”. ”Keberanian Malala, yang masih belia, serta keteguhannya mempertahankan prinsip menjadi kekaguman kita semua,” ujarnya. Ashton menambahkan, serangan itu telah menyerang nilai kemanusiaan dan hak asasi aktivis pejuang HAM di Pakistan. Adapun Pemerintah AS menyebut aksi itu barbar dan pengecut. (BBC/AFP/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau