JEDDAH, KOMPAS.com - Daerah Kerja (Daker) Jeddah sudah melakukan rapat-rapat koordinasi, untuk mempersiapkan pelayanan ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armina) Rabu (10/10/2012) lalu.
"Rapat-rapat akan berlanjut, baik di tingkat satuan tugas maupun sektor, lalu dilanjutkan dengan survei ke lapangan untuk melihat kondisi riil," kata Kepala Daker Jeddah, Ahmad Abdullah, di Jeddah, Kamis (11/10/2012).
Daker Jeddah pada 23-24 Oktober atau 8-9 Djulhijah akan menjadi satuan tugas yang bertanggung jawab atas proses layanan ibadah haji di Arafah.
Di Arafah nanti, jemaah Indonesia akan terbagi dalam 70 maktab, dan dua maktab untuk jamaah khusus ((PIHK). Pada setiap maktab akan ditunjuk seorang pengawas, untuk memantau kualitas layanan bagi jemaah.
"Petugas akan dilengkapi dengan daftar layanan (checklist) untuk memantau kualitas katering, menu, kelengkapan tenda, kamar mandi, MCK, sanitari, ketersedian air, transportasi dan sebagainya. Jika ada yang kurang maka petugas akan segera melapor," kata Abdullah.
Untuk tahap awal, pada survei nanti petugas akan melihat kondisi di lapangan, fasilitas yang ada dan layanan umum. "Misalnya, apakah MCK di maktab Indonesia bisa digunakan, apakah airnya lancar atau tidak. Kualitas tenda dan sebagainya," kata Abdullah.
Kekurangan dari fasilitas itu akan dibahas, dan dicarikan jalan keluarnya agar pada saat wukuf dan mabit (bermalam) di Muzdalifah dan Mina, semua fasilitas layak digunakan.
"Tapi, jangan tanya rasio MCK dengan jumlah jemaah. Kalau itu yang dibahas, maka akan banyak lahan yang terbatas itu untuk MCK, dan menggusur lahan untuk tenda jemaah," kata Abdullah. Solusinya, penggunaan fasilitas secara bergilir dan tertib.
Satgas Arafah juga sudah melakukan koordinasi dengan satgas lainnya terutama pada layanan kesehatan, karena akan ada perbantuan dokter dari masing-masing satgas pada saat pergerakan jamaah di Armina nanti.
Dia juga menjelaskan bahwa ketersedian obat-obatan juga diperiksa ulang, agar mencukupi dan jika ada kekurangan akan dikoordinasikan lagi dengan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji.
Sementara Sekretaris Daker Jeddah, Nur Alya Fitra, pada kesempatan terpisah menjelaskan, awal persiapan dan pergerakan petugas Satgas Arafah.
Pada 21 Oktober Petugas Daker Jeddah akan ke Makkah, karena pada 20 Oktober merupakan hari terakhir penerbangan jemaah haji di Bandara King Abdul Azis Jeddah.
Lalu diadakan lagi rapat-rapat koordinasi di Makkah, dilanjutkan dengan survei ke Arafah. Pada 23 Oktober atau 8 Djulhijah Subuh, Satgas Arafah bergerak ke Arafah, sementara jemaah mulai diberangkat dari pemondokan Mekkah ke Arafah sekitar pukul 08.00 waktu Arab Saudi, secara bergelombang.
Diharapkan, semua jemaah sudah tiba di maktab masing-masing di Arafah pada sekitar Maghrib hingga lepas Isya. "Namun, petugas Indonesia di Mekkah akan melakukan penyisiran pada 24 Oktober atau 9 Djulhijah Subuh, untuk mengantisipasi jemaah yang tertinggal di pemondokan di Makkah," kata Fitra.
Kemudian jemaah wukuf dari Dzuhur hingga Maghrib, dan pada 25 Oktober dini hari bergerak ke Muzdalifah. Subuh keesokan harinya ke Mina untuk melempar jumroh, lalu tahalul (potong rambut), dan bisa melepas kain ihram.
Sumber: Antara
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang