Jakarta, Kompas -
Permainan kolektif dan kedisiplinan menjalankan strategi pelatih menjadi kunci meredam permainan Vietnam, yang cepat dan agresif menekan lawan saat kehilangan bola. Vietnam akan lebih berbahaya saat tampil di kandang dibandingkan saat menahan Indonesia, 0-0, di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, pada 15 September. Sayap serang Pham Thanh Luong yang mengesankan di SEA Games 2011 akan kembali menjadi penggedor pertahanan Indonesia.
”Mereka selalu melakukan pressing, sangat cepat saat menyerang, dan kompak. Kita harus lebih cepat dalam transisi. Kalau terlambat, akan sangat berbahaya. Karena itu, di Vietnam nanti kita harus bermain lebih sabar,” ujar Taufik, gelandang tim Garuda, Kamis (11/10).
Pemain klub Persebaya Surabaya itu menilai, kesabaran membangun permainan sangat penting karena Vietnam juga bertahan sangat disiplin. Di Surabaya, gempuran bertubi-tubi ke area pertahanan Vietnam tidak membuahkan gol.
Pelatih tim nasional Indonesia Nil Maizar mengakui, transisi permainan dari menyerang ke bertahan dan bertahan ke menyerang sangat penting. Vietnam akan bermain lebih agresif saat bermain di kandang dan membutuhkan transisi yang baik.
”Saat di Surabaya, mereka mengandalkan serangan balik. Saat di kandang, saya kira mereka akan lebih menyerang,” ujar Nil.
Mengenai transisi permainan, Nil menilai ada perbaikan. Pematangan transisi ini digenjot dalam empat hari terakhir.
Mengenai 11 pemain yang akan turun pertama, Nil belum membeberkan. Namun, skuad inti diperkirakan tak jauh berbeda dari sejumlah uji coba sebelumnya.
Taufik dan Vendry Mofu yang memiliki VO