Weekend yuk!

Menikmati Keindahan Pantai Mutun dengan Taksi Perahu

Kompas.com - 14/10/2012, 06:58 WIB

KOMPAS.com – Begitu banyak pilihan pantai di Lampung.Tak perlu jauh-jauh, sebuah pantai yang sering dikunjungi penduduk lokal bisa menjadi pilihan untuk berwisata pantai. Namanya Pantai Mutun, di Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran.

Dari Kota Bandar Lampung, jaraknya sekitar 10 kilometer. Perjalanan menuju pantai ini melewati jalanan aspal yang mulus. Perlu sekitar setengah jam perjalanan mencapai Pantai Mutun. Saat mendekati lokasi pantai, Anda akan menemukan kawasan tambak udang.

Pantai Mutun ramai dipadati penduduk lokal di hari-hari libur. Apalagi pantai ini telah dikelola cukup baik. Beragam fasilitas sudah tersedia di pantai ini menjadikan Mutun cocok sebagai destinasi wisata pantai untuk keluarga.

Pantai berpasir putih dan air laut yang begitu jernih hingga ke tepian pantai menjadi daya tarik pantai ini. Karena berada di teluk, airnya pun begitu tenang dengan ombak yang kecil. Sehingga menjadi lokasi yang aman untuk berenang bahkan bagi anak-anak.

Sayang di kala padat kunjungan, sampah-sampah akan tampak mengotori pantai. Setiap sore, petugas pantai bahkan para pedagang akhirnya sibuk membersihkan sampah-sampah di pantai.

Di Pantai Mutun sudah terdapat fasilitas seperti kamar mandi dan ruang ganti. Selain itu, terdapat banyak warung makan maupun restoran. Penjual kaus maupun suvenir juga mudah dijumpai. Pengunjung yang menggunakan motor akan dikenakan biaya masuk sebesar Rp 1.000 dan Rp 2.000 untuk mobil.

Setelah itu, pengunjung kembali dikenakan tiket masuk tepat di pintu gerbang Pantai Mutun. Tarif yang dikenakan sebesar Rp 10.000. Simpanlah tiket masuk tersebut karena akan dimintai oleh petugas yang ada di pantai.

Taksi perahu

Di sepanjang Pantai Mutun terdapat saung-saung untuk bersantai. Di area pintu masuk saung terbuat dari bambu. Di bagian barat yang relatif sepi, terdapat seluncuran air layaknya wahana di water sport yang tergolong sudah uzur. Pilihan aktivitas air lainnya adalah naik perahu kano, snorkeling, sampai banana boat.

Salah satu aktivitas menarik lainnya adalah naik taksi perahu. Ya, berkeliling Pantai Mutun dengan perahu berkapasitas 10 orang. Selain berkeliling, wisatawan juga bisa naik perahu menuju Pulau Tangkil.

Ya, tepat di depan mata, terdapat pulau kecil bernama Pulau Tangkil. Dari kejauhan saja sudah tampak rimbunan pohon di pulau tersebut dan pasir putihnya tampak jelas terlihat. Begitu menggoda untuk disambangi.

“Cuma Rp 10 ribu per orang ke Pulau Tangkil. Terserah mau berapa jam di sana, nanti saya jemput lagi. Tapi minimal lima orang,” ujar seorang bapak pemilik perahu.

Sayang, sore itu cuaca tak bersahabat. Saat ingin menaiki perahu, hujan deras datang. Setelah Lampung tak diguyur hujan selama satu bulan lebih, tepat hari itu Selasa (9/10/2012), Bandar Lampung dan daerah sekitarnya diguyur hujan dengan lebat.

Ah, Pulau Tangkil yang tampak menawan dari kejauhan pun menjadi sebuah impian. Impian yang harus terwujud jika suatu hari nanti berkesempatan untuk berkunjung kembali ke Lampung. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau