Bank Dunia Sering Gagal Selesaikan Masalah Kemiskinan

Kompas.com - 15/10/2012, 08:58 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pernyataan Bank Dunia yang ingin menghilangkan kemiskinan secara ekstrem di berbagai tempat di dunia, mendapat reaksi dari politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Arif Budimanta.

Menurutnya, pernyataan Bank Dunia tersebut patut dipertanyakan. Pasalnya di Indonesia, melalui program PNPM (Program Nasional P emberdayaan Masyarakat) yang merupakan arahan Bank Dunia, sudah terbukti gagal me ngurangi kemiskinan.  

Program PNPM terbukti tidak mampu menurunkan angka kemiskinan. Elastisitas tingkat penurunannya masih di bawah Malaysia dan Thailand. Padahal, kedua negara itu tidak diban tu Bank Dunia, ujarnya melalui pesan singkat, Senin (15/10/2012).

Dia mengatakan populasi penduduk miskin saat ini naik hingga dua kali lipat. Sebagian besar berada di pedesaan dan daerah terpencil. Jumlahnya sekitar 18,97 juta jiwa. Di perkotaan jumlah penduduk miskin mencapai 10,59 juta jiwa.

"Ke depan jika ingin menurunkan kemiskinan secara ekstrem, maka pemerintah harus memberikan akses yang lebih besar bagi warga miskin, terutama akses pendidikan," katanya.

Menurutnya, pengeluaran penduduk kota untuk pendidikan, mencapai 2,75 persen dari total pengeluaran per bulan. Sed angkan penduduk desa hanya 1,21 persen dari total pengeluaran tiap bulan. 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau