Demi Pemimpin yang Diidolakan...

Kompas.com - 15/10/2012, 14:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sengatan matahari yang ada di puncaknya tak mampu menggerus keinginan ribuan warga DKI Jakarta untuk menyaksikan langsung sosok gubernurnya yang baru dilantik, Joko Widodo dan wakilnya Basuki Tjahaja Purnama. Orang dewasa, laki-laki dan perempuan, sampai anak-anak berbaur jadi lautan manusia di depan gedung DPRD DKI.

Banyak di antara mereka yang terpaksa duduk di atas aspal. Bagian lainnya tampak mengakali panas dengan menutupi kepala menggunakan handuk, atau mengibas-ngibaskan sobekan kardus di area wajahnya. Panas memang, butiran keringat pun bercucuran.

Berjam-jam mereka menunggu sang gubernur yang mengusung semangat 'Jakarta Baru' selama masa kampanye. Lapar dan haus itu soal lain.

Pedagang asongan yang menjual telur puyuh atau tahu mendadak jadi idola. Air kemasan gelas plastik juga mendadak jadi barang langka. Selalu diserbu begitu ada simpatisan yang membaginya secara gratis.

Purwanto (52), mengajak serta istri dan seorang cucunya yang baru berusia lima bulan di tengah kerumunan, persis di depan panggung di mana Jokowi-Basuki menyampaikan pidato pertamanya pada seluruh warga DKI. Meski akhirnya warga Pademangan, Jakarta Utara ini terpaksa menyerah, menjauh dari kerumunan setelah cucunya tak henti menangis karena kepanasan.

"Saya dari pagi sudah di sekitar sini. Istri saya yang semangat banget pengen ngeliat Jokowi, saya antar, dan sekalian ngajak cucu jalan-jalan," katanya ditemui di lokasi, Senin (15/10/2012) siang.

Di sudut lainnya, duduk seorang ibu rumah tangga, Yati (38), dengan kaki setengah berselonjor, dan tangannya sibuk mengamankan air dalam kemasan gelas yang sisa setengah. Maklum, suasana di luar semakin sulit dikendalikan menjelang keluarnya sang gubernur.

"Saya mah cuma pengen denger pidato Jokowi. Kalau foto saya udah punya banyak. Tapi di sini berisik," keluhnya.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya yang dinanti tiba. Jokowi-Basuki dengan pakaian dinas gubernur muncul di atas panggung yang tingginya mencapai sekitar tiga meter. Puluhan fotografer sontak dibuat sibuk, sama halnya dengan para wartawan yang mencari sumber suara demi merekam pidato perdana Jokowi.

Seperti arena konser sebuah grup band terkenal, suara warga membahana. Persis seperti fans yang mengelu-elukan idolanya.

Dengan senyum khasnya, Jokowi memulai pidato dengan tersenyum lebar. Bersama Basuki, ia menyempatkan melambaikan tangan seraya mengucap terima kasih pada warga yang mendukung dan setia menunggunya.

Beberapa kali pasangan gubernur itu membungkukkan tubuhnya, mirip solois yang selesai melantunkan hits andalan di depan ribuan penggemarnya.

Sudah lama tak menyaksikan situasi semacam ini, di mana rakyat sangat mengidolakan pemimpinnya. Tak berlangsung lama, Jokowi langsung meraih sebuah mikropon yang telah disediakan.

Setiap kalimat yang meluncur dari bibirnya disambut seruan antusias. Ia berjanji akan terus mengunjungi kampung-kampung setiap harinya, dan meminta semua warga mengawal kinerjanya selama memimpin Jakarta.

Perlahan, ribuan warga pun balik arah. Meninggalkan lokasi seperti tak terjadi apa-apa...

Berita terkait lain dapat diikuti di Topik: PELANTIKAN JOKOWI-BASUKI.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau