Mengapa Perempuan Harus Lebih Dominan Saat ML?

Kompas.com - 15/10/2012, 16:48 WIB

KOMPAS.com - Pembagian peran antara pria dan wanita kerapkali juga merambat ke urusan ranjang. Kaum perempuan dikondisikan untuk mematuhi aturan di mana pasangannya harus lebih dominan saat berhubungan seks. Namun mematuhi aturan ini kadang membuat perempuan merasa kurang nyaman, dan akhirnya berkurang pula rasa amannya, demikian menurut para peneliti dari Yale University.

Hal ini bahkan masih berlaku di Amerika, negara yang diyakini menjunjung tinggi hak asasi manusia. Di negara ini perempuan secara seksual masih dituntut untuk tunduk pada laki-laki (submissive), sedangkan laki-laki harus lebih dominan.

"Penemuan kami menunjukkan, bagi pria dan wanita, semakin mereka mendukung hirarki kekuasaan tradisional dalam masyarakat, semakin mereka meyakini bahwa pria harus dominan secara seksual, semakin rendah pula kepercayaan diridan kompetensi perempuan secara seksual," papar kepala peneliti Lisa Rosenthal, PhD, dari Yale University.

Sebelumnya, para peneliti melakukan eksperimen terhadap 357 perempuan dan 126 laki-laki usia 18-29 tahun, yang aktif secara seksual. Peneliti ingin mengungkap tingkat kepercayaan diri secara seksual, keyakinan mereka mengenai siapa yang harus dominan secara seksual, sikap asertif mereka secara seksual, dan bagaimana perilaku secara umum mengenai peran sosial dari kedua jender.

Para responden menjalani wawancara secara pribadi dengan para peneliti. Di setiap kubikel, tersedia mangkuk berisi kondom perempuan yang diberikan gratis. Mangkuk tersebut bertuliskan: "Lindungi diri Anda dan pasangan. Silakan ambil! Free Female Condoms". Dari sinilah terungkap bagaimana perilaku mereka secara seksual.

Responden perempuan yang biasanya membiarkan pasangan mereka mendominasi dalam urusan seks, ternyata jarang yang mengambil kondom gratis tersebut.

"Ketika pria meyakini bahwa mereka harus dominan secara seksual, hal itu akan membuat pasangan mereka tidak mau terbuka, atau nyaman saat berdiskusi mengenai perilaku seksualnya, termasuk mengenai proteksinya. Mereka juga enggan bertanya tentang hal-hal yang tidak mereka ketahui, dan hal ini bisa mengurangi kepercayaan diri mereka secara seksual," tulis para peneliti dalam artikel mereka di Sex Roles Journal of Research,

Bagi pria maupun wanita, keyakinan bahwa pria lah yang harus dominan secara seksual membuat minat terhadap kondom perempuan ini berkurang. Hal ini disebabkan kondom perempuan dirancang sebagai sumber proteksi yang berpusat pada perempuan, dan mungkin dipandang menyalahi norma atau keyakinan bahwa pria seharusnya mengontrol segala situasi seksual.

Sebaliknya, semakin Anda memberdayakan diri, dan semakin Anda meyakini bahwa relasi seks seharusnya setara antara pria dan wanita, semakin Anda ingin memberi perlindungan pada diri sendiri. Selain itu tentunya Anda menjadi semakin percaya diri, berani mengambil alih peran, dan mampu menikmatinya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau