Kronologi Perampokan Kantor Pegadaian Poltangan

Kompas.com - 16/10/2012, 05:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Perampokan kantor Pegadaian kembali terjadi di wilayah Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Senin (15/10/2012) siang. Dalam peristiwa ketiga dalam kurun waktu delapan bulan terakhir ini, komplotan pelaku menyatroni kantor unit Pegadaian yang terletak di Jalan Poltangan Raya.

Siti, pemilik warung di seberang kantor tersebut, menjelaskan, sekitar pukul 14.15 WIB, ia melihat empat orang pria memasuki kantor. "Mereka pakai dua motor bebek, parkir di depan kantor, terus masuk," terang Siti kepada wartawan di lokasi kejadian, Senin (15/10/2012).

Di tempat yang sama, Kapolsek Metro Jagakarsa Komisaris M Arsalam menjelaskan, saat hendak memasuki kantor, keempat pelaku sempat ditanyai petugas satpam kantor, Supri (38), lantaran hendak masuk dengan tetap mengenakan helm. "Waktu ditanyai satpam, dijawab 'kami juga nasabah,'" terang Arsalam.

Sesaat kemudian, komplotan itu langsung mendorong Supri ke dalam kantor. Sebelum Supri bereaksi, para pelaku telah mengeluarkan alat seperti senjata api dan memukulkan ke bagian belakang kepala Supri hingga mengeluar darah. Para pelaku kemudian mendatangi Kepala Unit Pegadaian Poltangan, Edi (38). Salah seorang pelaku kemudian melakukan hal yang sama, memukulkan alat seperti senjata api ke bagian belakang kepala Edi hingga berdarah.

Pelaku lantas meminta kunci brankas kepada Edi yang dengan terpaksa diserahkannya. Pada saat bersamaan, pelaku lainnya mendatangi kasir Nurhaeni (24) yang saat itu sedang melayani nasabah bernama Paniyem (34). Keduanya langsung diancam dengan menggunakan tang. "Dompet saya diambil mereka," terang Paniyem.

Keempat orang tersebut lantas digiring ke sebuah ruangan dan disekap di sana. Sementara itu, komplotan perampok kemudian dengan bebas menjarah isi salah satu dari dua brankas yang berisi perhiasan dan uang tunai.

Setelah melancarkan aksi, para pelaku beranjak pergi dengan membiarkan keempat orang yang disekap tetap terkunci dalam ruangan. "Sekitar 15 menit mereka di dalam kantor, lalu keluar dan pergi ke arah Jalan Raya Tanjung Barat," kata Siti.

Beruntung saat disekap Nurhaeni membawa ponsel BlackBerry. Ia lantas menghubungi Kantor Cabang Pegadaian Jakarta Selatan untuk menjelaskan peristiwa yang terjadi di kantornya. Petugas Pegadaian Jaksel lantas menghubungi Polsek Metro Jagakarsa untuk meminta bantuan kepolisian.

Pegawai Pegadaian yang tiba di lokasi lantas membunyikan alarm. Namun, tanda bahaya itu tak juga mendatangkan perhatian warga sekitar di tengah keramaian lalu lintas di jalan tersebut. Saat alarm berbunyi, mereka mendengar teriakan meminta tolong dari dalam salah satu ruangan. Mereka lantas bergegas membukakan pintu tersebut. Warga baru menyadari terjadinya perampokan saat beberapa mobil kepolisian tiba di lokasi sekitar pukul 14.45 WIB.

Menurut Siti, saat petugas tiba, para pelaku sebenarnya belum lama meninggalkan lokasi kejadian. Meski demikian, lantaran tidak satu pun warga yang memperhatikan kendaraan yang digunakan para pelaku, pengejaran pun tidak dapat dilakukan.

Hingga kini, belum bisa dipastikan nilai kerugian dalam perampokan ini. Para pelaku diharapkan dapat diidentifikasi lantaran aksi mereka terekam CCTV yang tidak ikut dibawa oleh para pelaku.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau