Gadis yang Ditembak Taliban Dapat Perawatan di Inggris

Kompas.com - 16/10/2012, 07:43 WIB

KOMPAS.com — Malala Yousafzai (14), gadis Pakistan yang ditembak di kepala oleh tentara Taliban, tiba di Inggris untuk mendapatkan perawatan medis.

Gadis yang terkenal karena aktif menyuarakan pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan ini diserang dalam perjalanan pulang dari sekolahnya minggu lalu. Meski peluru sudah dikeluarkan dari tengkorak kepalanya, kondisi Malala masih kritis.

Tentara Taliban mengatakan, Malala menjadi target karena gadis itu dianggap mempromosikan sekularisme.

Saat ini Malala ditangani oleh tim dokter di Rumah Sakit Queen Elizabeth di Birmingham. Ia diterbangkan dari Pakistan menggunakan ambulans udara yang disediakan oleh Uni Emirat Arab dan ditemani tim dokter. Untuk sementara, ia tidak ditemani orangtuanya.

Walau Pakistan bersikeras ia bisa dirawat di negaranya, militer menyatakan bahwa tim dokter merekomendasikan agar Malala melanjutkan perawatan di Inggris yang punya kemampuan menyediakan perawatan terintegrasi untuk anak-anak dengan cedera berat.

Saat tiba di bandara Birmingham, Malala dibawa ke rumah sakit dengan ambulans yang berjalan dengan kecepatan lambat untuk mencegah lukanya bertambah serius.

Rumah Sakit Queen Elizabeth tersebut memang memiliki pusat layanan trauma yang memiliki kekhususan perawatan luka tembak dan cedera kepala yang sudah berpengalaman selama 10 tahun.

Perawatan yang akan dilakukan Malala, antara lain, memperbaiki kerusakan tulang tengkorak dan terapi saraf lanjutan yang kompleks.

"Luka di tulang tengkorak bisa dirawat dengan baik oleh dokter bedah saraf atau bedah plastik, tetapi kerusakan akibat gangguan suplai darah ke otak bisa berdampak jangka panjang," kata Duncan Bew, konsultan bedah trauma dari Brats Health NHS Trust di London, Inggris.

Ia menjelaskan, dalam penanganan trauma diperlukan tim dokter yang terdiri dari berbagai keahlian. "Targetnya bukan hanya membuat pasien hidup, melainkan juga memaksimalkan potensi rehabilitasi. Dengan penanganan cedera saraf sebagai yang terpenting," kata Bew.

Tim dokter juga menjelaskan bahwa orang muda memiliki otak dengan kemampuan memperbaiki diri dari cedera lebih baik dibanding orang dewasa.

"Malala sudah melewati dua tantangan, operasi pengambilan peluru dan masa paling kritis yakni 48 jam pasca-operasi," kata Anders Cohen, ketua tim dokter bedah saraf dari Amerika Serikat.

Pihak rumah sakit mengatakan, pihaknya tidak meningkatkan pengamanan karena selama ini, sebagai rumah sakit yang banyak menangani personel militer, tingkat keamanannya sudah cukup tinggi.

Malala sebelumnya bercita-cita menjadi dokter, tetapi kemudian setuju dengan usul ayahnya yang berharap ia menjadi politikus. Malala kini menjadi simbol perlawanan terhadap Taliban yang ingin mencegah anak perempuan mendapat pendidikan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau