Suriah Bantah Gunakan Bom Tandan

Kompas.com - 16/10/2012, 08:16 WIB

DAMASKUS, KOMPAS.com - Militer Suriah membantah tuduhan yang menyebut mereka menggunakan bom tandan atau cluster bombs saat berperang melawan pemberontak.

Sebelumnya pegiat HAM, Human Rights Watch, HRWG menuduh Suriah menjatuhkan bom tandan di kawasan padat penduduk, terutama di sekitar kota Maarat al-Nuaman.

Dalam sebuah pernyataan di televisi pemerintah, militer mengatakan ''tidak memiliki senjata jenis tersebut'' dan tuduhan yang disampaikan ''tidak mendasar''.

Laporan HRW pada Minggu (14/10) sebelumnya menyebut laporan video dalam jaringan internet menunjukkan bukti adanya peningkatan penggunaan bom tandan selama konflik.

Serangan bom tandan kebanyakan berlangsung di sejumlah kota sepanjang jalan besar di Maarat al-Nuaman dan jaringan ibukota Damaskus hingga ke Aleppo.

Pegiat HAM basis New York ini menyatakan penggunaan bom tandan terlihat pada ''kerusakan dan pola yang dihasilkan dan dijatuhkan dari sebuah pesawat tempur.''

Bom ini diidentifikasi buatan Rusia, bom tandan seri RBK-250 dengan pecahan AO-1SCh - Bom tandan mencakup bom, roket atau peluru meriam yang meledak dan menyebarkan bom-bom kecil di kawasan yang luas-.

Tetapi militer Suriah membantahnya, dan menuduh ''sejumlah berita terlibat dalam pertumpahan darah di Suriah,'' karena ''membuat laporan palsu''. "Laporan tersebut tidak mendasar dan sebagai bagian dari sebuah kampanye disinformasi.''

Suriah tidak menandatangani konvensi pelarangan penggunaan bom tandan yang dianggap membahayakan bagi warga sipil.

Steve Goose, salah seorang direktur HRW meminta Suriah ''untuk menghentikan segera penggunaan semua senjata yang mematikan dan membuat cacat warga sipil selama bertahun-tahun.''

Permintaan untuk Iran

Pengungsi Suriah yang menyeberang ke Turki telah mencapai 100.000 jiwa. Sementara itu dalam perkembangan lain, utusan PBB-Liga Arab Lakhdar Brahimi meminta Iran untuk membantu menangani krisis Suriah.

Saat berkunjung ke Teheran, dia meminta bantuan Iran untuk mendorong gencatan senjata di Suriah, selaku sekutu terdekatnya, terutama saat perayaan Idul Adha yang akan berlangsung pekan depan.

Sebuah gencatan senjata menurut Brahimi ''akan membantu menciptakan suasana yang bisa membangun sebuah proses politik.''

Brahimi juga menyampaikan permintaan serupa kepada pejabat Irak saat dia berkunjung ke Baghdad.

Brahimi saat ini memang tengah mengunjungi kawasan guna mencari solusi untuk mengakhiri konflik. Sebelumnya dia tandang ke Arab Saudi dan Turki pekan lalu.

Sementara itu perkembangan di lapangan, sedikitnya 50 orang tewas sepanjang hari Senin di Suriah.

Turki menyatakan telah menerima lebih dari 100.000 pengungsi Suriah di sejumlah penampungan pengungsi, yang disebut Turki akan membuat mereka tidak mampu menampung para pengungsi jika terus bertambah.

Sedangkan Uni Eropa sudah mengeluarkan sanksi baru atas pemerintahan Presiden Suriah, Bashar al-Assad, dan para pendukungnya.

Sanksi terbaru ini mencakup pembekuan aset dan larangan perjalanan atas 28 warga Suriah dan dua perusahaan.

Presiden Suriah Bashar al-Assad dilaporkan telah memerintahkan perbaikan segera di Masjid Umayyad di Aleppo yang mengalami kerusakan parah saat petempuran sepanjang akhir pekan.

Turki juga menggeledah sebuah pesawat Armenia yang membawa bantuan ke Suriah, ditengah kekhawatiran kemungkinan juga membawa perlengkapan militer bagi Suriah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau