Dahlan dan Jokowi Bicarakan Rusun dan Kereta

Kompas.com - 16/10/2012, 18:33 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, Selasa (16/10/2012) sore, menemui Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan. Dalam kunjungannya, Jokowi meminta izin penyelesaian program-program yang akan dilaksanakan.

"(Kantor) kita kan bertetangga. BUMN kan punya banyak kemampuan untuk bisa menyumbang program-program yang dijalankan oleh Jokowi," kata Dahlan selepas pertemuan dengan Jokowi di kantor Kementerian BUMN Jakarta, Selasa (16/10/2012).

Menurut Dahlan, program-program yang akan dilakukan oleh Kementerian BUMN dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ada yang bisa dilakukan secara bersamaan. Di satu sisi, perlu izin dari Kementerian BUMN dan di sisi lain perlu ada izin juga dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Pemprov DKI Jakarta).

Salah satu proyek itu menyangkut masalah perlintasan kereta api (KA). Nantinya, frekuensi lalu lintas KA akan dibuat dengan jarak lebih rapat. Dahlan mengatakan, pada Maret tahun depan, frekuensi kereta api di Jabodetabek akan mencapai 7 menit sekali dari frekuensi saat ini yang masih 8 menit sekali. Adapun pada November 2013, lalu lintas KA akan menjadi 6 menit sekali. "Jadi, nantinya palang pintu kereta api akan semakin banyak ditutup. Ini tentu saja akan menjadi masalah perlintasan," ujarnya.

Dahlan pernah mewacanakan pembangunan underpass di bawah perlintasan kereta api dan jalan raya. Lintasan bawah tanah ini tidak akan menyebabkan antrean kendaraan di jalan raya.

Selain masalah perlintasan kereta, Dahlan juga menyetujui agar lahan-lahan di sekitar stasiun kereta api tidak dijadikan pusat pertumbuhan bisnis, tetapi bisa menjadi pusat permukiman baru. Caranya dengan membangun rumah susun sederhana milik (rusunami) atau apartemen murah untuk warga.

"Jadi nanti gaji setiap orang tidak akan habis untuk transportasi saja. Bayar KRL sudah Rp 8.000, tapi harus ngojek sampai Rp 15.000, kan habis biayanya. Beda kalau ada apartemen di sekitar stasiun, warga tinggal jalan kaki," ujarnya.

Selain itu ada wacana untuk membangun monorel dari Bekasi ke pusat kota Jakarta. Monorel ini dimaksudkan untuk mengurangi kemacetan, khususnya tol dalam kota dari Bekasi ke Slipi. "Jadi, idenya ini membawa orang ke suatu tempat, bukan mobilnya yang dibawa," kata Dahlan.

Sementara itu, Joko Widodo menjelaskan, rencana yang telah dirancang oleh Kementerian BUMN dan Pemprov DKI Jakarta hanya perlu dikerjakan. "Kita ini ingin bicara yang konkret, baik soal monorel, pembangunan apartemen di dekat stasiun, hingga pembangunan rumah di kawasan kumuh. Saya ingin target secepatnya selesai karena masyarakat ingin cepat dapat manfaatnya," kata Jokowi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau