Dua Bulan Disekap, Putriana Dipaksa Mencuri dan Nyabu

Kompas.com - 17/10/2012, 23:41 WIB

MEDAN, KOMPAS.com - Setelah disekap selama dua bulan oleh Joko (26) warga Pasar IV, Tembung, Putriana Safitri (24), warga Jalan Warakarni, Lau Dendang, Percut Seituan, Medan, akhirnya bisa melarikan diri, Rabu (17/10/2012). Putri melarikan diri saat Joko sedang berada di dalam kamar mandi Hotel Citra, Jalan Aksara, Medan.

Selama dalam penyekapan, Putri tak bisa berkata-kata dan tak bisa berbuat banyak. Dia selalu diancam oleh Joko akan membunuh kedua anaknya jika mencoba kabur. Tak hanya itu, selama mengikut Joko, Putri selalu disuruh untuk mencuri.

"Saat ini kasusnya masih dalam proses penyidikan, korban sudah buat laporan, tersangka juga sudah kita amankan dan sedang diproses, " kata Kanit Reskrim Polsek Percut Sei Tuan, AKP Faidir Chaniago kepada wartawan.

Berdasarkan informasi di kantor Polisi, Putriana adalah seorang ibu rumah tangga dengan dua orang anak. Dia pergi meninggalkan rumah sejak Lebaran lalu bersama Joko yang tak lain adalah tetangganya karena jatuh cinta padanya. Ternyata Joko hanya memanfaatkan ketulusan hati Putriana.

Selama dua bulan bersama Joko, Putri mengaku selalu dicekoki sabu-sabu saat berada di dalam kamar hotel. Tak tahan dengan sikap dan perlakuan Joko yang kerap menyiksa, mencekoki narkoba dan menyuruhnya mencuri, akhirnya Putriana melarikan diri. Saat Joko berada di dalam kamar mandi, Putriana berhasil melarikan diri dan mengunci pintu kamar sehingga Joko terkurung.

Selanjutnya, Putriana menghubungi suaminya, Adil (35). Mendapat telepon dari istrinya, Adil pun datang ke Hotel Citra bersama petugas kepolisian dari Polsekta Percut Seituan.

Setelah itu, Putriana dibawa suaminya dan seorang pengemudi becak bermotor ke RSU Muhammadyah Medan untuk diperiksa kesehatannya. Hasil pemeriksaan menyatakan dia mengalami luka memar, gigi geraham sebelah kanan copot, dan bagian belakang badannya terasa nyeri akibat disiksa.

Dari dalam tas Putriana ditemukan 1 unit laptop beserta charger hasil curiannya. Biasanya, begitu selesai mencuri mereka langsung menyewa kamar di seputaran Aksara. Barang hasil curian Joko yang menjualnya. Adil sendiri tak menyangka istrinya nekad melakukan hal ini.

"Hampir dua bulan istriku dibawanya. Ternyata dia selingkuh dengan istriku. Saat istriku telepon, ternyata dia menyiksa, menyuruh pakai sabu dan menyuruh istriku mencuri," kata Adil.

Adil menuturkan, saat istrinya menghubungi, dia langsung menghubungi polisi. "Aku bawa polisi dan menyuruh polisi menangkap dia," katanya lagi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau