Tergoda Hati di Suka Hati

Kompas.com - 20/10/2012, 06:51 WIB

Oleh Frans Sartono

Ke Pontianak, jangan lupa ”ngopi” di warung Suka Hati. Kopi berteman pisang goreng, talas goreng berlumur selai sari kaya, mengajak lidah untuk kembali ”ngopi” di warung yang sudah 70 tahun berdiri itu.

Menyusuri Jalan Tanjungpura, di jantung kota Pontianak, Kalimantan Barat, mata terantuk pada sebuah warung kopi. Bukan karena fasad bangunan yang tak beda dengan ruko-ruko di sepanjang jalan itu. Tapi karena teko bermoncong panjang yang mengucurkan kopi ke gelas. Terdengarlah bunyi krucuk-krucuk dari kopi yang tertuang di gelas. Saat itu menguarlah aroma yang sungguh mengundang selera. Itulah warung kopi Suka Hati yang memang menggoda hati.

Warungnya tidak istimewa. Ruang berukuran lebar 3 meter dan panjang 8 meter itu bahkan terasa sesak ketika pengunjung banyak. Ada sebelas meja yang menampung sekitar 30 pengopi. Tapi, keterbatasan ruang itu justru membuat sesama penikmat menjadi akrab, dan mempersedap setiap tegukan.

”Ah sebenarnya biasa saja, tidak ada yang istimewa. Ini kopi murni, tidak dicampur apa pun,” kata Yo Kui (65), pemilik Suka Hati, yang mewarisi usaha dari sang kakek, Sheng Huang Chiang, yang datang ke Pontianak tahun 1940.

Yang istimewa adalah rasa kopinya. Pahitnya kopi, dengan sedikit sentuhan manis, terasa benar-benar singgah di lidah. Kopi disajikan dalam gelas kecil ukuran sekira 200 ml. Ukuran itu terasa pas untuk satu kenikmatan sederhana. Tidak lebih, dan tidak kurang. Disebut sederhana karena harga segelas kopi yang cuma tiga ribu rupiah.

Dengan porsi mungil itu, Kasim (33), sang barista, peracik kopi, sudah dibuat sibuk nian. Kasim yang sudah 20 tahun bekerja di Suka Hati cekatan menyeduh dan menyiapkan pesanan beragam selera. Ia menyiapkan satu teko yang cukup mengisi 15 gelas.

Kata Kasim, tidak ada yang istimewa dalam peracikan kopi. ”Biasa saja. Kopi dituang air mendidih. Gula masuk belakangan. Kalau gula diseduh bareng kopi, akan mengurangi panas dan rasa,” kata Kasim.

Cara penyajian juga tak beda dengan warung lain. Misalnya teko moncong panjang itu banyak digunakan di warung kopi di Pontianak. Kopi yang telah diseduh, kemudian disaring dimasukkan ke teko. Dengan begitu kopi yang tersaji sudah tak berampas. Kopi disuguhkan dengan sendok bebek untuk mengaduk dan menyeruput.

”Dulu pake gelas porselen tapi sering pecah. Pembeli juga ada yang minum di luar terus tidak kembali. Jadi gelas habis,” kata Yo Kui.

Yo Kui menggunakan kopi dari Sungai Ambawang dan Punggur, daerah penghasil kopi di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Untuk menjaga kualitas rasa, ia tidak pernah membeli kopi basah atau lembap. ”Yang menggoreng juga harus berpengalaman. Kami pake standar saja, dari 100 kilo goreng, sisa 70 kilo,” kaya Yo Sui.

Selai sari kaya

Adalah rasa yang menjadikan orang suka kembali ke Suka Hati. Kalau tidak, mana mungkin warung bertahan lebih dari 70 tahun. Pelanggan datang turun temurun. ”Kakek saya dulu setiap hari ngopi di sini,” kata Azwar, salah seorang penikmat yang mengikuti jejak sang kakek menjadi pelanggan Suka Hati.

Suka Hati sendiri juga warung warisan. ”Warung kopi ini diturunkan dari kakek saya yang datang ke Pontianak tahun 1940. Dulu masih pake nama Sheng Huang Chiang,” kata Yo Kui.

Dulu sang kakek menyewa tempat tak jauh dari lokasi warung Suka Hati saat ini. Tahun 1972 warung mulai menggunakan nama. ”Dulu ada temen kasih pesen, kalau buka toko sebut saja suka hati. Kita merasa cocok saja dengan nama itu,” kata Yo Kui.

Selain rasa kopi, yang menjadikan orang jatuh hati pada Suka Hati adalah penganan berupa pisang goreng, talas, dan roti. Semuanya dilumuri selai sari kaya. Manis gurih pisang selai sari kaya itu beradu rasa dengan rasa kopi yang khas. ”Ini partner yang cocok untuk minum kopi,” kata Yo Kui.

Untuk pisang, Yo Kui sengaja memilih pisang nipah (Musa acuminata balbisiana cultivars) dari Sungai Duri, dan Jungkat, daerah penghasil pisang di Kabupatan Kubu Raya, Kalbar, tak jauh dari Pontianak. Pisang jenis lain seperti tanduk, kata Yo Kui, dirasa kurang pas untuk ngopi.

Untuk selai sari kaya, Suka Hati membuat sendiri selai yang terbuat dari telur bebek dan gula itu. ”Banyak warung kopi di Pontianak ini, tapi Suka Hati terkenal dengan selai sari kayanya,” kata Amat, penikmat kopi yang siang itu ngopi bersama kawan-kawannya, Hamdan dan Azwar.

Warung buka sejak pukul 05.30 dan tutup pukul 17.30. Ada saat jeda antara pukul 10.30 sampai 12.00. Warung Suka Hati hanyalah salah satu dari puluhan warung kopi yang ada di Pontianak. Seperti terasa di Suka Hati, warung-warung kopi di Pontianak didatangi orang-orang dari beragam latar belakang sosial dan ekonomi. Ada buruh, pengusaha, guru, pegawai negeri, politisi, sampai polisi. Ada semacam demokrasi di warung kopi yang bikin orang bersuka hati..

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau