KOMPAS.com - Di Jakarta, untuk menyeberang kali atau sungai, warga biasanya mendapati sebuah jembatan penyeberangan yang melintang di atasnya. Tetapi di kali Sunter, Koja, Jakarta Utara, jembatan yang ada tidak dirasa cukup..
Warga menggunakan perahu-perahu tradisional sebagai jembatan terapung bagi warga. Perahu-perahu yang disebut perahu eretan banyak ditemui di beberapa titik Kali Sunter.
Seperti yang dilakukan Mukhtar (64), seorang penarik perahu eretan. Sudah delapan belas tahun, pria asal Batu Jaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat itu mengaku menjadi penarik perahu eretan.
Di atas perahu bentuk persegi panjang, yang memiliki panjang sekitar lima meter dan lebar kurang lebih satu setengah meter, Mukhtar menyewakan jasa mengantar warga untuk menyeberangi Kali Sunter.
Bentuk perahu sendiri tampak sederhana. Dengan terbuat dari kayu serta memiliki atap peneduh, di situlah Mukhtar mencari rejeki untuk menyambung kehidupan keluarganya dengan sembilan anak.
Penghasilannya pas-pasan untuk membuat dapur tetap 'mengepulkan asap'. Dengan menyeberangkan warga di kali yang memiliki lebar sekitar tiga puluh meter itu, Mukhtar bisa memperoleh rupiah.
"Kadang kalo biasanya itu yang naek ngasih 500 rupiah, tapi sekarang alhamdulilah udah banyak yang ngasih 1.000 rupiah. Ada juga yang kadang-kadang ngasih lebih, apa karena kasihan, apa gimana, enggak paham Bapak, itu kan hak dia yang naek," kata Mukhtar, saat ditemui di atas perahu eretan, Jumat (19/10/2012).
Perahu tersebut setiap hari dapat hilir mudik mengatar penumpang yang akan menyeberang dari Jalan Sindang Terusan menuju Jalan Rawa Badak yang berada di seberang ataupun sebaliknya.
Sistem pengoperasian perahu terbilang unik. Bukan dengan mesin bermotor atau dayung, tetapi menggunakan 'otot' si penarik. Dengan kabel serat kawat yang membentang melintangi kali Sunter dan mengait di badan perahu, Mukhtar cukup menarik kabel maka perahu eretan pun akan berjalan melintasi kali Sunter.
Pengalaman di perahu sendiri, bagi yang pertama kali pasti akan merasa sedikit canggung dan menegangkan. Maklum menurut Mukhtar, di bagian tengah kali bisa mencapai kedalaman empat meter. Belum lagi kadang-kadang perahu terasa oleng.
Tetapi hal itu biasa bagi Mukhtar atau penumpang langganannya. Meski saat ini usianya terbilang tak lagi muda, Mukhtar tampak masih kuat menarik perahu beserta penumpang di atasnya.
Biarpun harus menarik kabel kawat, Ia mengaku sudah terbiasa dengan tangan kosong, walau sesekali tetap memerlukan alas tangan.
"(Kabel kawat) Ini namannya seling, ada yang bilang wayer, ya kalo nariknya make busa (spon) juga bisa. Kadang juga enggak make busa, udah biasa tangan Bapak. Kalo mau 'ngeremnya' di tangan tinggal pegang busanya. Dulu Bapak make sarung tangan, tapi ribet kalo mau rokok ato minum nak," ujar Mukhtar bercerita.
Dalam satu minggu, Mukhtar bekerja tiga hari. Di mana dua hari berikutnya merupakan waktu libur dan selebihnya pekerjaan itu dilanjutkan oleh temannya.
Setiap hari, Mukhtar memperoleh penghasilan sampai dengan Rp 100.000 rupiah. Namun tak jarang apabila penumpang sepi, penghasilannya pun terbilang hanya pas-pasan. Jumlah itu belum termasuk setoran Rp 50.000 kepada pemilik perahu alias bosnya.
Maklum perahu eretan itu bukan milik pribadi. Saat masih jayanya, Ia mengenang dulu banyak warga menggunakan jasa penyeberangan menggunakan perahu. Namun, kemajuan pembangunan dan perkembangan pesat kendaraan bermotor di Jakarta membuat warga banyak yang sudah meninggalkan alat penyeberang tradisional yang sudah lama ada di Kali Sunter itu.
"Yang biasa naik perahu sekarang udah punya motor sendiri. Pernah sampe Bapak enggak dapat setoran akhirnya Bapak nombok sendiri," ceritanya mengenang.
Walau begitu, hatinya tak mau untuk meninggalkan profesi yang digelutinya sejak tahun 1994 itu. "Ya Bapak udah biasa. Kita kan harus mencintai suatu pekerjaan. Apa lagi dapet pekerjaan sekarang susah. Karena kerja itu bukan cuma pikiran, tetapi pake hati juga," ujar Mukhtar sambil menarik perahu.
Usaha sejenis dapat ditemui di beberapa titik kali ataupun sungai yang ada di Jakarta Utara. Banyak pekerja penarik perahu yang menggantungkan hidup dengan berkerja di atas perahu eretan itu.
Eksistensi keberadaan mereka merupakan 'warisan' yang bertahan bersama dengan kemajuan dan pekembangan Ibu Kota yang semakin modern.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang