Magelang

Duh! Sepekan, Tiga Kesurupan Massal di SMK 3

Kompas.com - 21/10/2012, 11:45 WIB

MAGELANG, KOMPAS.com - Dalam satu pekan telah terjadi tiga kali kesurupan massal di SMK Negeri 3 Kota Magelang Jawa Tengah. Kejadian pertama terjadi pada Senin, (15/10/2012), sejumlah siswa tiba-tiba menangis dan berteriak tanpa sebab saat pelajaran berlangsung. Namun, tidak lama kejadian itu bisa diatasi.

Kemudian pada Jumat (19/10/2012), sebanyak sembilan siswa yang baru saja selesai mengikuti pendidikan karakter di Rindam IV Diponegoro, dalam waktu hampir bersamaan tiba-tiba berteriak histeris. Beruntung kejadian tersebut cepat dinetralisasi oleh pihak sekolah yang mendatangkan batuan dari pihak luar.

Sabtu (20/10/2012), sebelum sempat mengikuti pelajaran sekitar pukul 07.00 WIB, 15 siswa di kelas yang berbeda mendadak berteriak histeris, bahkan ada beberapa yang pingsan. Akibatnya, pihak sekolah terpaksa membatalkan semua jam mata pelajaran dan memulangkan siswa lebih awal.

Agus Santoso, Wakil Kepala sekolah bidang kesiswaan SMK Negeri 3 Magelang mengatakan, kejadian pada Sabtu pagi itu tergolong agak sulit diatasi. Karena jumlah siswa yang banyak, serta ada dua siswa yang sulit disembuhkan. Mereka adalah Katrin dan Linda siswa Jurusan  Perhotelan.

"Walaupun sempat dimandikan di tengah lapangan, keduanya masih belum sadar dan terus berteriak. Setelah dikembalikan ke tempat awal mereka 'dirasuki' mereka baru sadar, sekitar pukul 10.00 WIB," cerita Agus.

Hengki, paranormal yang didatangkan pihak sekolah mengatakan, siswa-siswa yang kesurupan itu memang sedang dalam kondisi kelelahan dan labil. Selain itu, ada juga faktor lain yang merasuki mereka mengaku terganggu karena tempat mereka dirusak.

Kepala Sekolah SMKN 3 Kota Magelang, Nisandi membenarkan pihaknya sedang melakukan pembanguan dengan menggali saluran air. Namun dirinya tidak mengetahui bagian yang digali tersebut merupakan bekas kuburan jaman Belanda.  "Saya tidak tahu itu, yang jelas ini musibah dan kita segara ambil langkah, doakan agar semuanya cepat selesai," ujarnya.

Sejak kejadian hari Jumat, pihaknya sudah menggelar pengajian dan doa bersama. Diikuti oleh para guru, perwakilan siswa juga paranormal. "Selain doa dan rukyah, kami juga mendatangkan Psikolog untuk memperkuat psikologi anak untuk mengembalikan mental mereka. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi," ujar Nisandi. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau