Benarkah ASI dalam Payudara Bisa Basi?

Kompas.com - 22/10/2012, 06:21 WIB

TANYA : 

Dear konselor AIMI, apakah bayi masih boleh disusui dan diberi ASI setelah saya tinggal selama 3 hari perjalanan dinas ? Karena kata orang tua dulu, ASI dalam payudara juga bisa basi sehingga tak boleh lagi diberikan lagi pada bayi.  Apakah itu artinya untuk mendapatkan ASI yang baru dan segar, ASI dari payudara harus dibuang terlebih dulu? Umur bayi saya saat ini 1,7 tahun. Terima kasih atas jawabannya. 

(Shelly, 30, Padang)

JAWAB :

Dear Mama Shelly,

Wah serunya mau jalan-jalan untuk perjalanan dinas, namun biasanya ini sering menjadi dilema ya bagi kita para ibu menyusui untuk kembali beraktivitas di luar rumah dan terpaksa meninggalkan si kecil di rumah, kebayang perasaannya kita biasanya seringkali campur aduk ya..

Pertanyaan mama Shelly ini bagus sekali dan sering menjadi pertanyaan banyak ibu yang menyusui buah hatinya. Sebenarnya tidak ada ASI yang basi di dalam payudara ibu. Ini adalah mitos yang banyak berkembang di masyarakat. Sebenarnya jika kita bepergian, kita masih bisa tetap memberikan ASI kepada bayi kita dengan tentunya memerah dan menyimpan sebagian ASI perah kita yang disimpan dalam kulkas dan diberikan saat kita tidak sedang bersama si kecil. Lalu ketika kita tidak bersama bayi, kita bisa perah payudara kita secara rutin agar produksi payudara tetap terjaga dan ASI perah yang dihasilkan bisa kita simpan dan bawa pulang sebagai ‘oleh-oleh’ buat si kecil di rumah.

Selain itu, penting juga bagi kita untuk rutin memerah ketika tidak bersama bayi supaya payudara kita tidak bengkak dan mengeras karena jika situasi ini berkelanjutan bisa mempengaruhi pasokan ASI di payudaran dan tentunya juga akan sangat sakit buat ibu sendiri. Cara kerja payudara kita cukup simpel, semakin sering dikeluarkan maka produksinya pun akan terus terjaga dan bisa jadi juga meningkat. Jadi upayakan untuk melakukan persiapan untuk memerah dan perlengkapan seperti wadah ASI perah dan termos untuk mengangkutnya kembali selama perjalanan kembali.

Sesampainya kita di rumah, Mama Shelly bisa langsung menyusui kembali si kecil, karena biasanya si kecil dan mamanya akan sangat menantikan momen ini dan tentunya ASI yang ada di payudara kita tetap dalam kondisi baik dan tidak basi. Karena cara kerja payudara kita ini sudah didesain sedemikian rupa oleh sang Pencipta untuk menjadi tempat yang menghasilkan nutrisi yang aman, mudah diserap dan dicerna bayi plus juga bayi akan merasa nyaman karena ada dalam dekapan mama.

Ini ada salah satu tulisan menarik tentang seorang pramugari yang bekerja dan tetap memberikan ASI kepada bayinya di web AIMI: http://aimi-asi.org/2011/08/menabung-asi-antara-jeddah-jakarta/. Mungkin ini bisa memberikan inspirASI kepada Mama Shelly untuk bisa kembali tugas dan bekerja dan tentunya tetap menyusui si kecil.

Semoga pertanyaannya terjawab ya Mama Shelly dan mohon maaf jika ada salah kata. Salam menyusui!

Nia Umar, S.Sos, IBCLC

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau