Ikan Asin Berangkatkan Damrah Haji dan Umroh

Kompas.com - 22/10/2012, 18:55 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Mendengar Ikan Asin sudah tentu tak asing lagi bagi masyarakat. Salah satu kerajinan hasil olahan tangan ini sudah terkenal dan banyak diminati. Tetapi untuk menengok langsung pembuatan Ikan Asin, tentu tak semua orang tahu seperti apa prosesnya.

Di balik nikmatnya ikan asin tersebut, tersimpan cerita kesuksesan dari para pengusaha ikan asin. Seperti di tempat pembuatan dan pengolahan ikan asin di Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara misalnya.

Seorang pengusaha pembuat ikan asin, Hajjah Damrah (46) mengaku sudah sepuluh tahun menekuni usaha tersebut, melanjutkan usaha milik orang tuanya yang dikelolah bersama keluarga. Ia mengaku orangtuanya telah merintis usaha tersebut sejak tahun 1975.

"Orangtua saya (mulai usaha) dari tahun 75-an juga udah buat ikan asin. Ya saya mah cuma ngelanjutin aja, udah sepuluh tahun saya nerusin," kata Damrah ditemui di tempat pengelolahan miliknya, Senin (22/10/2012).

Tak berbekal pendidikan apapun alias tak bersekolah, wanita dengan empat anak itu terbilang sukses. Hanya dengan keuntungan yang diperolehnya, dia sudah menunaikan ibadah Haji dan Umroh beberapa kali.

Meski dia tak bersekolah, Damrah tidak ingin anak-anaknya mengalami sepertinya. Dari usaha tersebut, ia mampu menyekolahkan keempat anaknya hienggak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

"Kalo saya mah enggak sekolah. TK aja enggak. Tapi Alhamdulilah, anak empat orang sekolah semua. Ya sampe lulus SMA atau STM. Kalau saya naik Haji dua kali, Umrohnya juga udah dua kali. Ya dari hasil ini (ikan asin). Makanya Ibu bersyukur, orang enggak sekolah tapi Alhamdulilah bisa Haji sama Umroh," ujar Damrah tersenyum.

Meski terbilang sukses, bukan berarti usaha yang dijalaninya tak ada masa surut. Terkadang apabila hasil tangkapan ikan di laut oleh nelayan tak banyak, tentu penghasilan yang di dapatnya juga menurun.

"Ya, kalau lagi banjir (banyak) sebulan bisa sampe 10 ton. Kalo lagi dikit ya kadang enggak banyak, untungnya juga dikit. Kalo (jumlah) untungnya enggak nentu, waktu lagi sepi sebulan paling 5 juta rupiah, kalo lagi banjir (banyak) bisa sampe 20 juta," ungkap Damrah menjelaskan.

Dengan bakat dan keterampilan yang diturunkan dari keluarga, wanita asli Banten itu menceritakan proses pembuatan dan usaha Ikan Asin yang sudah lama digeluti keluarganya dan menjadi sumber mata pencahariannya tersebut.

"Awalnya Ikan kita ambil langsung di nelayan yang lelang. Dibeli ikan mentahannya terus ikannya kita bawa ke sini (untuk dikelola)," terangnya.

Setelah ikan tiba di tempatnya, ikan tersebut direndam di dalam air garam pada sebuah bak besar selama satu hari. Hal itu agar garam dapat meresap pada daging ikan.

"Besoknya dibelek (dibelah) ikannya, digarem lagi pake garem pasir. Abis itu dicuci dan dijemur dua hari. Baru udah bisa diangkat di jual," katanya menambahkan.

Ikan yang dipilih untuk diasinkan pun terdiri dari berbagai jenis. Seperti Tongkol, Mayung, dan Remang, sama yang laen.

Proses secara keseluruhan membuat ikan asin dikatakannya bervariasi, bisa tiga sampai empat hari dari awal hingga proses akhir untuk siap dijual.

Dalam sekali 'panen' (empat hari), dirinya mengaku bisa memaketkan 15 sampai 20 kardus. Satu kardus rata-rata memiliki isi 60 kilogram ikan asin.

Satu kilogram ikan asin bervariasi harganya, tergantung jenis ikan yang diasinkan. Untuk ikan asin tongkol 1 kilogram, harga normalnya Rp 14.000. Sedangkan untuk ikan Remang 1 kilogram harganya mencapai Rp 18.000.

Pelanggan yang datang membeli ikan asin hasil olahannya bukan cuma dari Jakarta, tetapi dari berbagai kota luar Jakarta lainnya.

"Ada yang dari Bogor, Parung, Bekasi, kalo Jakarta sih hampir semua," tutup Damrah, sambil merapikan ikan asin yang akan dikepak dalam kardus.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau