Debat capres as

Obama Unggul 2-1 atas Romney

Kompas.com - 23/10/2012, 11:44 WIB

BOCA RATON, KOMPAS.com — Presiden Barack Obama membuat penantangnya dari Partai Republik Mitt Romney terdesak dalam debat terakhir mereka terkait isu-isu kebijakan luar pada Senin (22/10) malam waktu Florida, atau 15 hari sebelum pemilu pada 6 November mendatang.

Jajak pendapat CNN terhadap para penonton debat itu, yang digelar sesaat seusai debat, menunjukkan bahwa Obama unggul dengan meraih 48 persen suara dibanding Romney yang meraih suara 40 persen dari para peserta jajak pendapat. Dengan begitu, Obama mencatat skor kemenangan 2-1 atas Romney dari tiga seri debat mereka. Romney menang telak pada debat pertama pada 3 Oktober lalu yang membahas isu ekonomi. Namun, Obama berhasil bangkit dan membalikan keadaan pada debat kedua pada 16 Oktober yang masih membahas isu-isu domestik.

Dalam debat terakhir itu, mereka adu argumentasi mengenai program nuklir Iran, Musim Semi Arab, Libya, Suriah, Israel, China, dan berbagai isu lain sambil sesekali beralih ke perekonomian domestik.

Obama memamerkan pengalaman seorang panglima tertinggi dalam menjelaskan kebijakan AS di bawah kepemimpinannya dan menyerang pandangan dan usulan Romney, mantan Gubernur Massachusetts yang hanya punya sedikit pengalaman tentang isu-isu luar negeri. Obama mengatakan, Romney setiap kali mengubah posisinya terkait isu-isu kebijakan luar negeri. Karena itu, Obama memperingatkan bahwa rivalnya itu tidak memiliki konsistensi yang dibutuhkan seorang panglima tertinggi.

"Pada berbagai masalah, apakah itu di Timur Tengah, Afganistan, apakah itu di Irak, apakah itu di Iran, Anda selalu tidak fokus," kata Obama. Ia kemudian mengejek klaim Romney yang menyatakan bahwa Obama telah mengurangi kekuatan angkatan bersenjata ke level yang belum pernah terjadi sejak awal abad ke-20.

"Menurut saya, Gubernur Romney tidak punya cukup waktu untuk mempelajari cara militer kita bekerja," kata Obama, seraya mengatakan bahwa dia akan mempertahankan anggaran pertahanan. "Anda bilang angkatan laut, sebagai contoh, dan kita memiliki lebih sedikit kapal dibandingkan pada tahun 1916. Yah, Gubernur, kita juga mempunyai lebih sedikit kuda dan bayonet karena model militer kita sudah berubah," papar Obama yang disambut tawa penonton.

"Kita sekarang memiliki apa yang disebut kapal induk, yang bisa didarati sejumlah pesawat. Kita punya kapal yang bisa menyelam, yakni kapal selam bertenaga nuklir," lanjut Obama. "Jadi, pertanyaannya sekarang bukan perang kapal di mana kita menghitung jumlah kapal, melainkan kemampuan," ujar Obama.

Romney ujung-ujungnya mendukung sebagian besar langkah-langkah pemerintahan Obama termasuk di wilayah-wilayah yang bergolak, seperti tentang perang sipil di Suriah, dan bagaimana mencegah Iran meraih senjata nuklir. Romney juga memuji upaya Obama membunuh Osama bin Laden dan pemimpin Al Qaeda lainnya, tetapi berkeras bahwa kita tidak bisa keluar dari kekacauan ini. Karena itu, Romney mendorong "strategi komprehensif" untuk mengekang ekstremisme kekerasan di Timur Tengah.

"Kuncinya adalah jalur untuk meraih dunia Muslim untuk menolak ekstremisme oleh mereka sendiri," kata Romney, yang mengusulkan kebijakan AS untuk mempromosikan pembangunan ekonomi, pendidikan yang lebih baik, kesetaraan gender, dan membantu menciptakan berbagai lembaga. Namun, ia tidak dapat mengungkapkan perbedaan signifikan dengan kebijakan Obama tentang bagaimana hal itu akan terjadi.

Perdebatan ketiga dan terakhir itu terjadi saat keduanya bersaing ketat dalam jajak pendapat nasional. Mereka juga bersaing sengit di sejumlah negara bagian yang diperebutkan, khususnya di Ohio, Florida dan Virginia. Menurut jajak pendapat terbaru, Obama unggul sedikit di Ohio. Romney memimpin sedikit di Florida, dan Virginia merupakan medan pertempuran menentukan.

Para analis sepakat bahwa Obama memenangkan debat terakhir itu, tetapi mereka mempertanyakan apakah perdebatan itu akan memiliki dampak besar pada pemilih dan perlombaan secara keseluruhan. "Tidak ada keraguan debat ini akan mencetak satu skor untuk Obama," kata Kepala Koresponden Nasional CNN John Raja. Sementara Analis Politik Senior CNN David Gergen mengatakan, Obama "mendominasi perdebatan" dan muncul sebagai pemenang.

Alex Castellanos, ahli strategi Partai Republik dan kontributor CNN, mengakui bahwa Obama menang pada debat itu. "Tidak ada keraguan tentang itu," katanya. Namun, ia menambahkan, Romney telah menunjukkan gaya kepemimpinan sejuk dan tenang dari seorang panglima tertinggi dan hal itu untuk menunjukkan bahwa membuat perubahan dalam kepemimpinan sekarang akan aman.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau