Disegel, Siswa di Kedungsalam Belajar di Sawah

Kompas.com - 23/10/2012, 13:08 WIB

MALANG, KOMPAS.com - Kasus penyegelan dua gedung sekolah, yakni SDN Kedungsalam 02 dan SMP PGRI Kedungsalam 01, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, masih terus berlanjut.

Setelah siswa SD belajar di lapangan bola, kini siswa SMP juga belajar di sawah, yang tak jauh dari gedung sekolah setempat. Pada Selasa (22/10/2012) pagi, sebanyak 90 siswa SMP PGRI, terpaksa tidak masuk kelas, karena pintu gerbang sekolah masih disegel oleh keluarga ahli waris Suparno, putra dari Krijomedjo.

Ahli waris masih bersikukuh meminta ganti kerugian senilai Rp 1 miliar. Akhirnya, para siswa itu, harus rela belajar di tengah sawah dengan beralaskan tikar.  Ada beberapa kelas lagi, belajar di lapangan bola, beralaskan rumput. Ada juga siswa yang beralaskan sisa-sisa jerami padi yang sudah habis dipotong.

"Jelas terganggu belajar seperti ini," ujar Mitha, salah satu siswi SMP PGRI, saat ditanya Kompas.com, Selasa (23/10/2012) siang.

Menurut pengakuan Mitha, kondisi demikian jelas tidak nyaman untuk belajar. "Maunya teman-teman bisa belajar di kelas. Tapi, masalahnya belum selesai katanya. Terpaksa ibu guru nyuruh di sini belajarnya," katanya.

Sementara itu, menurut Kepala Sekolah SMP PGRI 01 Kedungsalam, Mustari Abu Mustofa, pihaknya tetap berharap pemilik tanah bisa memahami kondisi belajar siswa yang ditempatkan di lapangan dan di sawah. "Para siswa tak bersalah. Seharusnya sekolah tetap dibuka, penyelesaiannya jalan terus. Karena sudah diurus oleh pemerinta," katanya.

Siswa di SMP PGRI aku Mustari, jumlahnya mencapai 90 siswa. "Hari ini, terpaksa harus belajar ditengah sawah. Kami tetap tak akan meliburkan sekolah. Pelajaran terus akan dilakukan. Semoga secepatnya bisa diselesaikan sengketa lahan ini," harapnya.

Lebih lanjut Mustari mengaku, semua pihak, mulai dari ahli waris, pihak desa, kecamatan dan Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, akan menggelar pertemuan di dalam sekolah. "Segel akan dibuka, tapi untuk ditempati rapat. Bukan untuk siswa," katanya.

Sementara itu, hingga kini, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Edy Suhartono, belum bisa ditemui dan dikonfirmasi. Saat dihubungi via telepon, sedang tidak aktif. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau