MALANG, KOMPAS.com - Kasus penyegelan dua gedung sekolah, yakni SDN Kedungsalam 02 dan SMP PGRI Kedungsalam 01, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, masih terus berlanjut.
Setelah siswa SD belajar di lapangan bola, kini siswa SMP juga belajar di sawah, yang tak jauh dari gedung sekolah setempat. Pada Selasa (22/10/2012) pagi, sebanyak 90 siswa SMP PGRI, terpaksa tidak masuk kelas, karena pintu gerbang sekolah masih disegel oleh keluarga ahli waris Suparno, putra dari Krijomedjo.
Ahli waris masih bersikukuh meminta ganti kerugian senilai Rp 1 miliar. Akhirnya, para siswa itu, harus rela belajar di tengah sawah dengan beralaskan tikar. Ada beberapa kelas lagi, belajar di lapangan bola, beralaskan rumput. Ada juga siswa yang beralaskan sisa-sisa jerami padi yang sudah habis dipotong.
"Jelas terganggu belajar seperti ini," ujar Mitha, salah satu siswi SMP PGRI, saat ditanya Kompas.com, Selasa (23/10/2012) siang.
Menurut pengakuan Mitha, kondisi demikian jelas tidak nyaman untuk belajar. "Maunya teman-teman bisa belajar di kelas. Tapi, masalahnya belum selesai katanya. Terpaksa ibu guru nyuruh di sini belajarnya," katanya.
Sementara itu, menurut Kepala Sekolah SMP PGRI 01 Kedungsalam, Mustari Abu Mustofa, pihaknya tetap berharap pemilik tanah bisa memahami kondisi belajar siswa yang ditempatkan di lapangan dan di sawah. "Para siswa tak bersalah. Seharusnya sekolah tetap dibuka, penyelesaiannya jalan terus. Karena sudah diurus oleh pemerinta," katanya.
Siswa di SMP PGRI aku Mustari, jumlahnya mencapai 90 siswa. "Hari ini, terpaksa harus belajar ditengah sawah. Kami tetap tak akan meliburkan sekolah. Pelajaran terus akan dilakukan. Semoga secepatnya bisa diselesaikan sengketa lahan ini," harapnya.
Lebih lanjut Mustari mengaku, semua pihak, mulai dari ahli waris, pihak desa, kecamatan dan Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, akan menggelar pertemuan di dalam sekolah. "Segel akan dibuka, tapi untuk ditempati rapat. Bukan untuk siswa," katanya.
Sementara itu, hingga kini, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Edy Suhartono, belum bisa ditemui dan dikonfirmasi. Saat dihubungi via telepon, sedang tidak aktif.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang