Pengadilan Adat di Kertha Gosa

Kompas.com - 23/10/2012, 14:20 WIB

Oleh AYU SULISTYOWATI

SEBUAH bale dari kayu beratap limas dari ijuk tak berdinding berada pada ketinggian dua meter dilihat dari perempatan pusat kota Klungkung, Bali. Langit- langitnya terbuat dari lukisan tangan pewayangan, menggambarkan kehidupan manusia dan karma. Itulah Kertha Gosa, tempat penguasa mengadili warga yang bersalah.

Ruangan itu tanpa tembok, dan hanya berdiri pilar-pilar dari kayu dengan ukiran yang sudah memudar. Semua lukisan itu dibuat oleh seniman Desa Kamasan yang letaknya tak jauh dari Kertha Gosa, selanjutnya terkenal sebagai lukisan Kamasan. Cerita wayang itu terlukis di atas kain belacu yang diberi larutan tepung beras dan awet hingga puluhan tahun.

Lukisan ini menjadi daya tarik tersendiri dari Kertha Gosa. Pembuatan lukisannya tidak menggunakan kuas yang lumrah digunakan pelukis. Kuas terbuat dari bambu dan batang pohon Nao. Cat pewarnanya pun berupa gerusan batu pere yang diberi air hingga warnanya coklat bata. Warna kuning dihasilkan dari kencu.

Berdasarkan sejarahnya, ini merupakan tempat pembahasan segala hal pemerintahan hingga ruang pengadilan terbuka. Belum ada satu prasasti pun yang memuat orang di balik ide pendirian bale tersebut. Di salah satu pahatan di pintu utama puri terdapat angka penanggalan, yakni gambar Caka Cakra Yuyu Paksi-paksi sebagai lambang satu, enam, dua, dua. Ini dipercaya tahun 1622 tahun Caka atau tahun 1700 Masehi ketika Raja I Dewa Agung Jambe.

Meski hanya replika, susunan meja dan kursi untuk raja serta ahli hukum dan pendeta diupayakan sesuai aslinya. Kursi yang asli tersimpan di museumnya.

Pada masa kerajaan, Kertha Gosa berfungsi sebagai tempat pertemuan tamu-tamu dari Nusantara hingga mancanegara, serta tempat memutuskan urusan kerajaan. Riwayat Kerajaan Klungkung sendiri menggantikan runtuhnya kejayaan Keraton Gelgel pada 1650. Karenanya, Klungkung kemudian menjadi pusat kerajaan yang strategis dan tanahnya lebih tinggi sehingga terhindar dari banjir.

Jatuhnya kerajaan atas peperangan dengan Belanda pada 28 April 1908 mengubah fungsi bale menjadi bale pengadilan adat. Siapa yang berperkara terkait adat dan agama akan disidangkan serta diputuskan di atas bale ini.

Lukisan wayang

Hingga sekarang, Kertha Gosa lebih dikenal orang sebagai tempat pengadilan. Hal itu selaras dengan lukisan-lukisan wayang di langit-langitnya.

Lukisan wayang itu terdiri atas tujuh tingkat. Setiap tingkatnya melingkar dari utara ke selatan berupa rangkaian cerita dan dari bawah sampai ke langit paling atas.

Sejumlah gambar bertingkat itu dapat diartikan gambaran manusia-manusia. Manusia seperti apa yang akan menerima karma baik dan buruk di pengadilan Tuhan.

Beberapa bagian lukisan di atas asbes ini tampak memudar karena tergerus air yang masuk lewat atap yang bocor. Di antara lukisan wayang Kamasan itu terdapat tulisan pelukisnya, Pan Sumari, yang diminta memperbaiki di tahun 1960.

Sayangnya, tidak ada data pasti berapa kali Kertha Gosa pernah dipugar. Hanya berdasarkan ”katanya”, Kertha Gosa dipugar tiga kali pada tahun 1920, 1930, dan 1960.

”Saat ini kami tengah mengupayakan adanya dana dari pusat untuk merestorasi dan memperbaiki Kertha Gosa. Namun, masih terkendala status tanah yang belum diberikan oleh pihak Puri Klungkung sebagai hak guna pakai,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Klungkung I Wayan Sujana, awal September lalu.

Dana yang diajukan ke pusat itu Rp 5,5 miliar. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Bali berencana memperbaiki beberapa bagian bale dengan dana Rp 200 juta. Kondisi bale, terutama bagian ukiran kayu serta lukisan, memprihatinkan. Beberapa bagian rapuh dan cat-catnya mengelupas.

Lukisan wayang di langit-langit pendopo juga didapati di Bale Kambang, pendopo yang berada di tengah danau buatan Taman Gili. Di Bale Kambang pengunjung dapat mengikuti cerita mengenai perbintangan sesuai penanggalan kelahiran bayi dan sifatnya, hingga persoalan peperangan.

Tiket masuk Kertha Gosa Rp 12.000 untuk dewasa, baik turis asing maupun domestik, serta anak-anak Rp 6.000. Pengunjung harus berpakaian rapi atau pihak Kertha Gosa menyediakan kain untuk dipakai selama berkeliling lokasi. Percayalah, lukisan Kamasan serta keindahan tamannya juga membuat sejuk pemandangan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau