Obama Unggul Lagi

Kompas.com - 24/10/2012, 02:16 WIB

Boca Raton, Senin - Debat ketiga menjelang pemilu presiden AS membahas kebijakan luar negeri AS. Calon presiden dari Partai Republik, Mitt Romney, menekan Presiden Barack Obama terkait kekacauan di banyak negara. Namun, mayoritas media besar AS menyimpulkan Obama unggul.

Bob Schieffer dari CBS menjadi moderator pada debat ketiga atau terakhir antara Romney dan Obama di Universitas Lynn, Boca Raton, Florida, AS, Senin (22/10) malam waktu setempat.

Romney menekan Obama soal kekacauan politik di Libya, Mesir, dan Suriah. Dia juga menyerang Obama karena tidak singgah di Israel dalam kunjungan pertamanya sebagai presiden ke Timur Tengah.

Romney bahkan menuduh Obama tidak punya strategi dan melemahkan posisi AS dengan pengurangan anggaran militer dan pengurangan senjata. Ia pun mengingatkan bahwa dalam empat tahun terakhir, Iran terus melakukan pengayaan nuklir dan tidak berhasil diredam.

Di Suriah, kata Romney, terjadi tragedi kemanusiaan dengan kematian 30.000 orang dan 300.000 warga Suriah terpaksa mengungsi. Ini seharusnya bisa dihindari jika AS lebih kuat dan lebih agresif. ”Hal yang kita saksikan dalam empat tahun terakhir, posisi AS melemah dalam beberapa hal di dunia,” katanya.

Mantan Gubernur Negara Bagian Massachusetts itu mencanangkan AS yang kuat dengan penambahan lapangan pekerjaan dan penguatan kelas menengah. Ia berjanji akan mengubah keadaan empat tahun terakhir.

Romney menekankan Arab harus dibebaskan dari ekstremisme, dirangkul menuju demokrasi, dan dibangun secara ekonomi. Menurut dia, saat ini gerakan Al Qaeda justru merambah ke mana-mana.

Ada beberapa isu yang dia sepakat dengan Obama, termasuk penyerbuan terhadap pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden, dan penjungkalan Hosni Mubarak sebagai Presiden Mesir.

Tidak kredibel

Obama menyerang balik dengan mengatakan, kebijakan ekonomi dan luar negeri yang dia tawarkan tidak asal adu kuat, mengandalkan perang, dan mendikte. Menurut capres petahana dari Partai Demokrat itu, sebelum dia menjabat presiden, AS telah kehilangan sekutu, bermasalah di Irak dan Afganistan, serta dibenci dunia.

”Selama satu dekade sebelum menjabat, AS bermasalah juga soal penanganan terorisme. Osama tidak kunjung ditangkap,” kata Obama. Namun, kini, lanjut Obama, AS telah menarik pasukan dari Irak serta membuat Irak dan Afganistan mandiri. Dengan semua masalah utama itu selesai, kata Obama, dia akan bisa fokus pada strategi pembangunan kembali AS.

Tentang Israel, Obama menyerang Romney secara implisit. ”Saya ke Israel bukan menghadiri acara penggalangan dana,” kata Obama. Ia menyindir kunjungan Romney ke Israel beberapa waktu lalu yang bertujuan menggalang dana.

Obama mengatakan bahwa AS yang kuat tidak semata-mata harus menambah anggaran pertahanan. Hal yang penting adalah efektivitas dan efisiensi.

Obama juga menyebut Romney tidak kredibel dan tidak jelas pendiriannya soal kebijakan luar negeri, serta sekadar melanjutkan kebijakan mantan Presiden George W Bush yang ”gegabah dan salah”.

David Gergen, pengamat politik dari Universitas Harvard, mengatakan, Obama tampil piawai. Harian Los Angeles Times menyebut Obama lebih siap debat.

Sebaliknya, Senator Rob Portman dari Partai Republik mengatakan, Romney memiliki strategi yang jelas.

Jajak pendapat CBS menunjukkan 53 persen responden menyatakan Obama unggul dari Romney, yang hanya meraih suara 23 persen. Jajak pendapat CNN menunjukkan Obama unggul 48 persen atas Romney (40 persen). Jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan bahwa Obama unggul dengan suara 48 persen atas Romney (33 persen).

Obama, menurut Reuters/ Ipsos, menjadi favorit presiden berikutnya dengan dukungan 55 persen responden. Romney hanya meraih 48 persen dukungan. (AP/AFP/REUTERS/MON)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau