Banjir Lahar Mengintai

Kompas.com - 24/10/2012, 03:00 WIB

Semarang, Kompas - Sejumlah sungai di lereng Gunung Merapi berpotensi meluncurkan banjir lahar dari sisa material letusan Gunung Merapi tahun 2010 sekitar 10,8 juta kubik pada musim hujan ini. Hal itu mengancam hunian sekitar 2.000 keluarga di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun pada Selasa (23/10), aliran sungai rawan banjir lahar dingin di Kabupaten Magelang, Klaten, Boyolali, Jawa Tengah, serta Kabupaten Sleman, DIY, kini dalam pantauan serius.

Terdapat delapan sungai di lereng Gunung Merapi yang kini diawasi petugas. Sungai-sungai tersebut adalah Kali Woro (Klaten), Kali Gendol, Kali Kuning, Kali Boyong (Sleman), Kali Putih, Kali Krasak, (Magelang), serta Kali Senowo dan Kali Oki di Kabupaten Boyolali, Jateng.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) Jawa Tengah, Sarwana Permana mengingatkan, ketika musim hujan mencapai puncaknya, dikhawatirkan aliran sungai itu menjadi jalur banjir lahar dingin sisa material letusan Gunung Merapi dua tahun lalu.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono, Selasa (23/10), di Yogyakarta mengatakan, ancaman lahar Merapi masih akan terjadi di sisi barat di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Sebab, ciri material di kawasan ini didominasi abu sehingga lahar dingin mudah mengalir apabila terguyur air hujan.

Sementara itu, potensi terjadinya aliran lahar dingin di sisi selatan Merapi cenderung kecil karena sifat material vulkanik di daerah ini lebih kasar dan berat.

Surono sendiri memprediksi material vulkanik Merapi pascaerupsi tahun 2010 baru turun sekitar 30 persen dari total material yang mencapai kisaran 140 juta meter kubik.

Meski demikian, berapa pun jumlah material vulkanik Merapi yang tersisa, menurut Surono, ancaman lahar dingin kini gampang dideteksi. Dengan begitu, ancamannya bisa ditanggulangi sejak awal.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Syamsul Maarif menambahkan, pengalaman erupsi Merapi tahun 2010 telah menjadi pembelajaran bersama. Dengan berbagai pengalaman dan pengembangan teknologi, alat Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta kini sudah bisa mendeteksi jauh-jauh hari sebelum ancaman lahar dingin ataupun erupsi datang.

Penduduk diingatkan waspada setiap kali hujan deras berlangsung di puncak Gunung Merapi.

Penduduk yang berada dalam radius daerah bahaya terbanyak ada di Kabupaten Magelang dan Kabupaten Klaten. Aliran Kali Woro melintasi lima desa dengan jumlah penduduk lumayan padat. Lima desa itu terdiri dari Desa Borangan, Sapen, Ngemplakseneng, Kendalsari dan Desa Sukorin.

Di lima desa itu sekitar 700 keluarga bertempat tinggal dekat dengan aliran Kali Woro. Bila terjadi banjir lahar dingin ketika hujan berlangsung, penduduk setempat harus mengungsi secepatnya ke daerah yang aman. Jumlah penduduk di daerah rawan di Klaten itu belum termasuk sebanyak 165 keluarga korban erupsi dan bencana lahar dingin yang menolak direlokasi.

Gunung Raung

Sehari setelah dinyatakan Siaga, awan putih masih terlihat mengepul di puncak Gunung Raung, di Jawa Timur, Selasa. Gempa tremor pun terus terjadi. Meski demikian, masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Raung masih beraktivitas seperti biasa.

Dari pantauan, asap putih masih tampak mengepul dari puncak Gunung Raung. Asap tersebut mengarah ke arah selatan atau Jember. Namun, menjelang siang, kepulan asap tidak lagi bisa dideteksi karena puncak Gunung Raung tertutup awan putih. Gempa tremor juga terus terjadi. Amplitudo gempa bahkan naik dari maksimal 30 menjadi maksimal 32 mm.

(ABK/WHO/NIT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau