JAKARTA, KOMPAS.com - Pada penutupan perdagangan di NYMEX, Kamis (25/10/2012), harga kakao berjangka mengalami penurunan.
Harga Kakao berjangka untuk penyerahan Desember 2012 ditutup melemah sebesar 4 persen atau 99 dollar AS dan ditutup pada posisi 2.399 dollar AS per metrik ton.
Sementara itu di Bursa Berjangka Jakarta (JFX) harga kakao untuk pengiriman Desember 2012 ditutup turun Rp 760/gram atau melemah 3,31 persen menjadi Rp 22.190 per gram. Penurunan harga Kakao dipengaruhi peningkatan produksi Kakao di negara-negara kawasan Afrika. Petani banyak yang melakukan panen seiring dengan perkiraan cuaca akan terjadi hujan.
Petani kakao khawatir hujan lebat pekan lalu akan menyebarkan penyakit dan investasi serangga di perkebunan mereka dan menghambat pengeringan biji kakao. Sebelumnya harga kakao naik hampir 6 persen pekan lalu karena para pedagang berspekulasi bahwa permintaan mengalami kenaikankarena tanda-tanda bahwa ekonomi AS mungkin akan pulih.
Di pasar spot, naiknya kebutuhan kakao untuk kebutuhan industri olahan di dalam negeri berdampak terhadap kenaikan harga kakao di pasar lokal. Sebelumnya, harga kakao dalam negeri Rp 20.000 per kilogram (kg) namun karena permintaan naik, harga kakau berpotensi naik hingga Rp 23.000 per kg.
Saat ini produksi biji kakao baru mencapai 712.000 ton di lahan seluas 1,6 juta hektar, dan diperkirakan produksi kakao tahun 2015 bisa mencapai 1 juta ton. Sepanjang September 2012, ekspor biji kakao tercatat 21.024,56 metrik ton.
Angka tersebut naik 64 persen dibandingkan dengan ekspor pada Agustus 2012. Berdasarkan data Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo), Minggu (7/10/2012), ekspor September 2012 juga tercatat naik 37 persen dibandingkan dengan September 2011.
Permintaan ekspor meningkat karena pabrik pengolah mulai menyiapkan cokelat untuk perayaan Natal dan Tahun Baru. Selain itu, penyerapan kakao di dalam negeri juga berkurang. Menurunnya penyerapan kakao di dalam negeri kemungkinan karena sebagian besar industri memborong kakao saat musim panen berlangsung pada semester I.
Sepanjang periode Januari-Juni, harga kakao di dalam negeri berada di level Rp 17.000 per kilogram (kg). Memasuki September, harga mulai bergerak naik ke level Rp 20.000 per kg. Meski pada September ekspor biji kakao melonjak, secara kumulatif pada Januari-September 2012 ekspor biji kakao hanya mencapai 105.000 ton atau turun 33,54 persen karena lebih banyak diserap dalam negeri.
Ekspor biji kakao sepanjang tahun 2011 juga turun sebesar 40 persen.Ekspor tahun lalu hanya sebanyak 207.000 ton, sementara tahun 2010 sebanyak 430.000 ton.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang