Ciputra World, Impian Membangun "Orchard Road" di Jakarta?

Kompas.com - 29/10/2012, 10:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kehadiran superblok Ciputra World 1 diharapkan bisa menjadi pusat perbelanjaan dan wisata modern di Jakarta. Mimpinya adalah menjadi "duplikat" Orchard Road di Singapura untuk Jakarta.

Demikian mengemuka dalam diskusi yang digelar oleh Komunitas Skyscraper City Indonesia dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda di Marketing Gallery Ciputra, Kuningan, Minggu (28/10/2012). Acara bincang-bincang bersama bersama General Manager Ciputra World Jakarta (CWJ) Kenny Seraphine tersebut membahas seputar kontribusi CWJ terhadap pertumbuhan kota Jakarta sebagai kota bertaraf internasional.

General Manager CWJ Kenny Seraphine dan Direktur Ciputra Rudi Hartono membuka beberapa hal menarik menyangkut pembangunan superblok Ciputra World. Seperti sudah diketahui sebelumnya, Ciputra World terbagi menjadi tiga bagian. Selain pusat perbelanjaan, masing-masing bagian dari superblok ini juga menawarkan kantor dan hunian dengan konsep mix used dengan keunikannya masing-masing.

Salah satu contohnya adalah Ciputra World 1. Superblok yang dibangun di atas wilayah seluas 5,5 hektare ini akan memiliki museum seni dan auditorium. Auditorium tersebut berkapasitas 4000 orang. Selain itu, Ciputra World juga akan menyediakan trotoar selebar 10 meter dan terowongan bawah tanah sebagai akses dari dari Ciputra World 1 dan Ciputra World 3.

"Ini adalah mimpi Pak Ciputra 20 tahun lalu. Beliau punya mimpi setiap kota besar memiliki pusat wisata belanja," ujar Kenny.

Namun, kata Kenny, kehadiran superblok yang bertujuan menjadi daerah pusat perbelanjaan wisata tersebut bukan hanya cita-cita Ciputra sendiri. Angan-angan menciptakan "duplikat" Orchard Road yang ada di Singapura untuk Jakarta juga menjadi mimpi Gubernur DKI Jakarta terdahulu.

Dia mengatakan, shopping district atau area pusat perbelanjaan saat ini bukan lagi hanya bertujuan untuk menggerakkan perekonomian. Area tersebut juga akan mempercantik tampilan Kota Jakarta.

Namun, Kenny menekankan pentingnya peran pemerintah untuk ikut mewujudkan kecantikan Jakarta dengan menyediakan transportasi massa yang memadai. Alasannya, selain cantik, Jakarta juga harus manusiawi bagi penduduknya.

Menurutnya, walaupun proyek superblok ini cenderung spektakuler, Ciputra tidak tertarik hanya membangun untuk mendapatkan gengsi.

"Kami belum berani membangun lebih dari 50 lantai," ujar Rudi.

Rudi menekankan perlunya melihat hal tersebut akan menguntungkan secara bisnis atau tidak. Selain itu, membangun dengan ketinggian lebih dari 50 lantai memiliki izin khusus yang belum tentu mudah didapatkan.

Kenny juga "membuka" kemungkinan adanya proyek susulan semacam ini di kota-kota lain di Indonesia. Saat ini, kota-kota tersebut belum terjamah oleh pengembang lain.

"Seperti filosofi yang diusung Pak Ciputra, yaitu 'Sang Pelopor', kami biasanya membangun di tempat orang tak melirik," ujar Kenny.

"Sepanjang kami melihat adanya potensi. Tapi, tidak mungkin asal masuk. Asalkan pasarnya jelas, real, waktunya tepat, dan kondisi ekonomi baik, mengapa tidak," imbuhnya.

Selain bincang-bincang, acara hari itu juga berisi kunjungan ke lokasi proyek Ciputra World Jakarta. Proyek tersebut hanya berjarak beberapa meter dari lokasi bincang-bincang di Marketing Gallery Ciputra.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau