Bahasa Indonesia, Riwayatmu di Mata Anak

Kompas.com - 29/10/2012, 11:39 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Rencana tidak diwajibkannya lagi mata pelajaran Bahasa Inggris di jenjang dasar pendidikan dasar di sekolah melibatkan bahasa Indonesia. Berdasarkan salah satu pernyataan pejabat kementerian yang mengurusi pendidikan dan kebudayaan di negara ini di suatu kesempatan, penguasaan terhadap bahasa pemersatu Tanah Air ini disebut-sebut sebagai kambing hitam.

Bukan tanpa pengalaman. Dengan kemampuan otaknya yang cerdas, anak-anak sekarang sudah mampu menguasai bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Dalam pembicaraan sehari-hari, para orangtua membiasakan anak-anak mereka untuk bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Di mal-mal, percakapan antara orangtua dan anak dalam bahasa Inggris sudah biasa didengar. Di rumah juga apalagi. Oleh karena itu, tak sedikit anak yang tumbuh dengan pemahaman yang lebih baik terhadap bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia.

Sementara itu, sebagian orangtua lagi, dan juga generasi usia 30 tahun ke atas, mulai resah terhadap masa depan bahasa Indonesia menyusul maraknya penggunaan bahasa alay, bahasa percakapan gaul remaja masa kini, dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari iklan televisi sampai soal ulangan di sekolah pun sudah tertular demam alay.

Keresahan ini juga bukan tanpa dasar. Masalahnya, bahasa alay digunakan setiap hari sebagai bahasa percakapan oleh anak-anak dan para remaja yang sedang mencari identitas diri. Namun, bukannya bahasa itu mudah dikuasai saat dibiasakan?

Belum lagi soal teladan para negarawan dan tokoh publik. Ajip Rosidi, salah satu sastrawan Indonesia, mengungkapkan kegelisahannya terhadap nasib bahasa Indonesia. Ajip menyoroti penggunaan bahasa "gado-gado" di kalangan tokoh publik, mulai dari para pejabat, kaum intelektual, sampai para selebriti.

"Mereka minder atau takut dianggap bodoh ketika menyampaikan pikirannya dengan bahasanya sendiri!" ungkapnya.

Dalam penyelenggaraan ujian nasional (UN) untuk SMA, termasuk tahun ini, fenomena menarik muncul. Selain karena matematika, banyak siswa yang tidak lulus karena gagal meraih nilai minimal dalam ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Jadi, lengkaplah sudah. Ada apa dengan bahasa Indonesia?

Tidak menarik

Harus diakui, anak-anak lebih tertarik dan berminat belajar bahasa Inggris dan bereksperimen dengan bahasa alay. Dalam opininya yang diterbitkan Kompas, 23 Oktober lalu, dosen Psikologi IAIN Sunan Ampel, Surabaya, Ainna Amalia FN, menduga ada masalah dengan kemasan pembelajaran bahasa Indonesia dari tahun ke tahun. Seharusnya, pencarian metode pembelajaran yang menariklah yang menjadi fokus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), guru dan institusi sekolah.

"Penyelesaiannya bukan dengan menghilangkan bahasa yang lebih menarik minat, melainkan perbaiki dan bikin menarik pelajaran bahasa yang kurang mendapat perhatian dan minat itu. Sebab, penguasaan bahasa Indonesia merupakan tanggung jawab sosial anak sebagai bahasa nasional. Di sisi lain, bahasa Inggris juga penting sebagai bekal generasi kita dalam menghadapi era globalisasi," demikian ditulisnya.

Menurut Ainna, tak ada masalah dengan kemampuan anak untuk mempelajari beberapa bahasa sekaligus. Namun, akar bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional harus lebih kuat ditanamkan daripada bahasa asing lainnya, bahkan bahasa alay sekalipun.

Pudarnya kebanggaan

Ketidaktertarikan menyebabkan pula masalah lain yang tak kalah peliknya. Pudarnya kebanggaan. Siapa yang masih bangga berbahasa Indonesia saat ini?

Tingginya angka kegagalan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia selama penyelenggaran UN tahun ini ditengarai terjadi karena adanya pergeseran nilai di kalangan generasi muda. Bahasa Indonesia dianggap sebagai mata pelajaran yang tidak penting dibandingkan bahasa asing.

Perancis, China, dan Inggris menjadi sejumlah contoh negara yang maju karena kebanggaannya terhadap tanah airnya. Sampai saat ini, mereka pun bangga menggunakan bahasa induknya dalam kehidupan sehari-hari. Komunikasi akan sulit jika tak mencoba menguasai bahasa mereka saat orang asing datang ke negara-negara tersebut.

Ajip mencontohkan salah satu indikatornya, negara-negara tersebut sangat antusias menerjemahkan buku asing ke dalam bahasa ibunya.

Kini, bahasa China sudah diperhitungkan di kancah internasional. Jangankan di dunia, bahasa China, atau yang juga biasa disebut bahasa Mandarin, sudah jadi nilai tambah dalam dunia pekerjaan.

Yang cukup melegakan hati adalah kabar bahwa bahasa Indonesia mulai marak diajarkan di sejumlah universitas di luar negeri. Namun, bahasa Indonesia tentu tetap harus menjadi tuan di rumahnya sendiri.

Jadi, bisa mulai ditanyakan kepada anak apakah dia lebih senang dan bangga berbahasa Indonesia? Jika ya, mungkin semangat butir terakhir Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang berbunyi "Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia" masih memiliki harapan setidaknya sampai anak-anak kita menjadi orangtua kelak.

Jika tidak?


Simak berita dan opini tentang dinamika perkembangan bahasa Indonesia dalam topik "Bahasa dan Generasi Muda Indonesia"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau