Menelusuri Kebudayaan Yogyakarta dan Indahnya Rinjani

Kompas.com - 29/10/2012, 12:11 WIB

Yogyakarta tidak hanya dikenal sebagai kota pelajar, tapi juga kota yang penuh kreativitas dan budaya lokal. Kota dengan luas 3.185,80 km2 ini memang memiliki sejarah tersendiri. Selain pernah menjadi ibukota negara, Yogyakarta dahulunya disebut Daerah Istimewa Yogyakarta tetapi kini cukup menyebut DI Yogyakarta atau DIY.

Yogyakarta tidak hanya dikenal sebagai kota pelajar, tapi juga kota yang penuh kreativitas dan budaya lokal. Kota dengan luas 3.185,80 km2 ini memang memiliki sejarah tersendiri. Selain pernah menjadi ibukota negara, Yogyakarta dahulunya disebut Daerah Istimewa Yogyakarta tetapi kini cukup menyebut DI Yogyakarta atau DIY.

Yogyakarta juga dikenal sebagai salah satu kota tujuan wisata andalan setelah Provinsi Bali. Dengan berbagai budaya meliputi lintas agama serta didukung kreativitas seni dan keramahtamahan masyarakatnya menjadikan Yogyakarta sebagai kota kreatif dan mampu menciptakan produk-produk budaya dan pariwisata menjanjikan.

Begitu banyak peninggalan budaya seperti Museum Hamengku Buwono IX di dalam kompleks Keraton Yogyakarta, Museum Batik Yogyakarta yang saat ini mengoleksi sekitar 1.000 jenis kain batik dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan lainnya. Selain itu, terdapat sekitar 91 desa wisata dengan 51 di antaranya yang layak dikunjungi.

Salah satu ikon yang terkenal adalah Jalan Malioboro. Merupakan nama salah satu jalan dari tiga jalan di Yogyakarta membentang dari Tugu Yogyakarta hingga ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Jalan Malioboro ini terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan kerajinan khas Yogja dan warung lesehan di malam hari menjual makanan gudeg khas Yogja.

Tidak hanya itu, di sini juga tempat berkumpulnya para seniman yang sering mengekpresikan kemampuan mereka seperti bermain musik, melukis, hapening art, pantomim dan lain-lain di sepanjang jalan ini.

Beranjak dari Yogyakarta, kita akan menelusuri keindahan dan kearifan lokal Gunung Rinjani. Gunung dengan ketinggian 3.726 mdpl ini terletak di pulau Lombok, sebelah timur pulau Bali. Tidak ada yang menyangka kalau Rinjani merupakan gunung tertinggi ketiga di Indonesia di luar pegunungan Irian Jaya.

Selain itu, Rinjani juga termasuk salah satu gunung berapi tertinggi di Indonesia yang sering di kunjungi oleh para pendaki baik dari lokal maupun mancanegara. Di dalamnya terdapat kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani dan dikelilingi hutan belukar seluas 76.000 hektar yang menciptakan pemandangan asri dan indah.

Tak hanya itu, Gunung Rinjani menyimpan mahakarya keindahan beruapa danau kawah yang disebut danau Segara Anak. Menurut cerita setempat, Danau "Segara Anak" memiliki misteri serta kekuatan gaib di mana jika danau ini terlihat luas, maka menandakan umur orang yang melihatnya itu masih panjang.

Dipercaya juga mempunyai tuah yang dapat menyembuhkan penyakit serta sering menjadi pemujaan untuk mendapatkan benda sakti. Bila ditelisik, Rinjani ini memiliki berbagai ekosistem yang masih terjaga secara alami. Terdapat hutan cemara, akasia, padang rumput bahkan edelweiss yang menjadi pemandangan jamak di perjalanan saat menuju puncak Gunung Rinjani.

Kendati memiliki sumber daya alam melimpah, namun penduduk setempat bisa memanfaatkan sehingga eksploitasi tidak sampai menimbulkan kerusakan lingkungan. Kita tidak pernah menyadari betapa nusantara penuh mahakarya alam dan budaya. Bagaimana mengabadikan mahakarya tersebut dalam bingkai tulisan serta potret kehidupan yang selalu dihargai. Menjadikan kita kaya akan informasi dan pengetahuan.

Jadi, mulai sekarang siapkan diri kita untuk mulai berkemas dan menjelajahi indahnya Indonesia. Selalu belajar untuk dapat menangkap setiap momen unik dalam setiap perjalanan. (adv)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau