Buat Pria, Jam Tangan Bukan untuk Dikoleksi

Kompas.com - 29/10/2012, 15:00 WIB

KOMPAS.com - Bagi sebagian pria, jam tangan tak hanya sebagai aksesori fungsional namun juga penting untuk penampilan. Jika sebagian perempuan merasa tak nyaman tampil tanpa menggunakan anting, gelang, kalung, atau cincin, laki-laki merasa kurang menarik jika tak tampil dengan jam tangan.

Dua personil band Marvells, Yanna (vokalis) dan Idea Fasha (gitaris) berbagi pengalamannya mengenai jam tangan kepada Kompas Female.

Bagi kedua pria ini, jam tangan punya peran penting dalam penampilan. Tampil tanpa jam tangan bisa mengusik kepercayaan diri. Meski jam tangan penting untuk penampilan, selain dipakai karena fungsinya tentunya, keduanya mengaku tak tertarik menjadi kolektor atau membeli jam tangan mewah bernilai belasan hingga puluhan juta.

Jumlah jam tangan yang dimiliki keduanya tak lebih dari empat buah. Selain tak banyak dari segi jumlah, keduanya pun punya kebiasaan yang sama. Setia memakai satu jam tangan favorit, tak pernah lupa mengenakannya, namun justru kerap lupa melepasnya.

"Saya pakai jam tangan saat tidur, karena kelupaan melepas, tapi tidak pernah lupa pakai setiap hari. Saya hanya melepas jam tangan saat berwudhu lalu pakai lagi. Jam tangan wajib dipakai, selain gelang yang bikin penampilan lebih lengkap. Juga, cincin kawin yang kalau dilepas bisa bermasalah," seloroh Idea, saat berbincang-bincang di kantor Kompas.com, Palmerah Selatan, Jakarta, Rabu (24/10/2012) lalu.

Yanna pun mengaku tak pernah ketinggalan memakai jam tangan setiap harinya. Selain berfungsi sebagai pengingat waktu, jam tangan menjadi pendongkrak kepercayaan diri.

"Tanpa jam tangan nggak bisa ke luar rumah. Penampilan nggak lengkap tanpa jam tangan. Kalau kata emak saya, cakep kalau pakai jam tangan. Jam tangan bikin saya lebih percaya diri," ungkapnya.

Bicara selera, keduanya punya referensi gaya yang berbeda. Jika Idea konsisten dengan gaya jam tangan sporty berbentuk bulat, Yanna lebih banyak mengeksplorasi gaya.

"Yang penting modelnya maskulin, bentuknya ada yang bulat, kotak, bahkan ada yang seperti gelang saat dipakai tidak terlihat seperti jam. Tipenya ada yang digital atau klasik, yang penting praktis dan maskulin," ungkap pria yang menggemari jam tangan Guess sejak tiga tahun belakangan ini.

Sementara bagi Idea, pemilihan jam tangan harus disesuaikan dengan postur tubuh. "Jam tangan harus proporsional dengan tubuh, jangan sampai terlihat terlalu besar, apalagi jika dipakai oleh saya yang badannya kecil," jelas pria yang setia memakai jam tangan sporty merek Casio sejak 10 tahun silam.

Soal harga, Yanna mengatakan asalkan model jam tangan sesuai selera, harga tak jadi soal. Namun, bukan berarti ia juga bersedia mengeluarkan uang belasan juta rupiah untuk jam tangan.

"Mending ditabung uangnya daripada beli jam tangan belasan juta," tuturnya.

Idea pun mengaku tidak tertarik membeli jam tangan mewah. "Saya bukan kolektor dan rasanya tidak cocok untuk yang mewah-mewah," tutupnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau