Stok Beras Diperkuat

Kompas.com - 30/10/2012, 03:16 WIB

Jakarta, Kompas - Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengatakan, stok beras Bulog harus diperkuat untuk mengantisipasi dampak negatif mundurnya panen raya padi 2013. Dengan merealisasikan impor beras 1 juta ton tahun ini, stok beras Bulog pada akhir tahun 2 juta ton.

”Kalau mau ideal, Bulog butuh stok beras akhir tahun 5 juta ton. Pertimbangannya, penduduk Indonesia besar dan tersebar. Tetapi dari perhitungan yang dilakukan Bulog, stok 2 juta ton di akhir tahun sudah memenuhi stok minimum untuk mengantisipasi defisit produksi dan mundurnya panen raya padi di musim rendeng,” ujar Sutarto, Senin (29/10), di Jakarta.

Sutarto mengatakan, dulu cadangan beras pemerintah di Bulog hanya 500.000 ton. Universitas Gadjah Mada lalu mengkaji perlunya menambah cadangan beras menjadi 1,25 juta ton. ”Akhir tahun ini ada cadangan beras di Bulog 2 juta ton, dan itu cukup,” katanya.

Untuk mencapai target stok beras 2 juta ton, impor 1 juta ton diperlukan. Pengadaan beras Bulog dari produksi beras dalam negeri harus realistis dan mempertimbangkan realitas peningkatan produksi beras nasional. Tahun ini produksi padi nasional naik 3,2 persen. Pengadaan beras Bulog 3,5 juta ton.

Guru Besar Sosial Ekonomi Industri Pertanian Universitas Gadjah Mada M Maksum meminta pemerintah menyediakan sarana pengering yang mudah diakses petani. Dengan demikian, saat panen pada musim hujan, petani tidak kesulitan menjemur padi sehingga kualitas beras tetap bagus dan harganya menguntungkan petani.

Sementara itu petani di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, diimbau untuk mempercepat masa tanam, yakni pada November hingga Desember. Hal tersebut dilakukan untuk mengejar pasokan air pada musim hujan.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon Wasman mengatakan, petugas dari dinas akan mulai melakukan sosialisasi kepada kepala desa dan camat di wilayah Cirebon mengenai waktu tanam yang dipercepat pada musim tanam rendeng 2012-2013. Sosialisasi dilakukan sejak pekan ini.

Sementara itu, hingga kini sekitar 2.598 hektar dari 25.000 hektar lahan sawah di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menjadi langganan banjir setiap musim hujan.

Di Madiun, Jawa Timur, pengalihan fungsi lahan pertanian produktif sulit dibendung. Akibatnya, luas sawah menyusut setiap tahun. Hal itu mengancam produksi pangan dan ketahanan pangan masyarakat karena mengandalkan pemenuhan kebutuhan pangan dari luar daerah Madiun. (MAS/REK/HEN/NIK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau