Obat Maag yang Bikin Impotensi

Kompas.com - 30/10/2012, 20:07 WIB

KOMPAS.com - Hati-hati dalam memilih obat maag! Jangan sampai Anda mengalami “musibah” yang terjadi pada pasien bernama Suro (bukan nama sebenarnya).

Suro datang ke klinik untuk berobat karena mengeluh sering sakit perut. Keluhan Suro ini agak istimewa karena dia mengeluh sakit perut setelah makan udang dan ikan laut, padahal dia mengaku doyan sekali dengan udang. Akhirnya, saat keinginan makan udang datang, datang pula keluhan sakit perutnya setelah menyantap sepiring nasi udang khas kota Surabaya.

Suro memang punya maag sejak beberapa tahun yang lalu, sakit perut yang dia rasakan sering pada daerah ulu hatinya. Karena itu, sudah lama pula dia mengkonsumsi obat-obat maag. Dia mengaku kurang suka dengan beberapa obat maag golongan antasida seperti magnesium hidroksida atau aluminium hidroksida, karena efek mualnya. Dia mengaku lebih sering menggunakan obat golongan antihistamin II, Ranitidine. Namun, belakangan dia mengganti obat ranitidine dengan cimetidine bermerk karena mengaku setelah menggunakan obat ini dia merasa lebih manjur karena harganya lebih mahal.

Suro juga mengaku semenjak menggunakan obat ini jerawat yang biasa tumbuh di wajahnya juga mulai berkurang. Intinya dia sangat puas dengan efek “obat mahal” itu. Dia mengkonsumsi cimetidine hampir setiap hari, 3 kali sehari setiap akan makan. Suatu kebiasaan yang tidak lazim.

Namun saat dilakukan pemeriksaan fisik, Suro tiba-tiba mengeluh kalo dia merasa buah dadanya membesar. Dia juga merasa jika berat badannya naik beberapa kilogram. Karena mendapat keluhan seperti itu, maka pemeriksaan intensif pada bagian perut dilanjutkan pada bagian dada. Ternyata benar, lelaki berusia 30-an itu mengalami pembesaran buah dada, atau istilah medisnya adalah ginekomasti. Resep hari itu, hentikan cimetidine dan ganti dengan ranitidine.

Jangan terbuai dengan harga obat yang lebih mahal, karena belum tentu obat yang lebih mahal memiliki khasiat yang lebih baik. Kadang kita merasa lebih PD bila diresepi obat yang lebih mahal. Itu adalah efek psikologis belaka, menurut saya.

Cimetidine adalah obat yang baik, bila digunakan dengan baik dan tepat indikasi. Dia bekerja sebagai antihistamine II yang berkhasiat untuk menghambat produksi asam lambung. Namun cimetidine sudah banyak ditinggalkan oleh para dokter karena memiliki efek samping anti-androgen. Selain menghambat produksi asam lambung, cimetidine juga menghambat kerja hormon androgen dalam tubuh. Jika pada perempuan mungkin efek ini masih bisa ditoleransi, tetapi bagaimana jika dikonsumsi oleh laki-laki?

Efek antiandrogen cimetidine ini menyebabkan berbagai efek samping pada laki-laki seperti pembesaran buah dada, kemandulan bahkan impotensi. Efek samping ini memang jarang, namun bagaimana jika efek samping ini muncul pada anda? Oleh karena itu banyak dokter yang enggan meresepkan cimetidine pada pasiennya. Para dokter lebih sreg meresepkan ranitidine dan omeprazole untuk peningkatan asam lambung.

Lantas kenapa jerawat pak Suro bisa membaik dengan cimetidine? Salah satu mekanisme timbulnya jerawat adalah aktivitas hormon androgen (testosteron) yang meningkat. Cimetidine punya efek antiandrogen, karena alasan itulah jerawatnya bisa membaik. Tapi, saya mau tanya, lebih pilih mana jerawat di muka atau impotensi selamanya?

Salam sehat lahir dan batin

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau