Trik Memulai Diet Tinggi Protein

Kompas.com - 31/10/2012, 13:58 WIB

KOMPAS.com - Menghilangkan kelebihan berat badan dengan menyantap steak, burger, keju dan bacon tanpa merasa lapar? Hm, siapa yang tak mau. Para pecinta daging telah lama memperkenalkan diet tinggi protein dan rendah karbohidrat. Beberapa jenis diet seperti Atkins, Zone, Protein Power, dan Sugar Busters telah merancang diet tinggi protein ini. Kendati banyak dari diet ini  berhasil, Anda perlu tahu benar mengenai hasil dan risiko sebelum  menjalani diet tepat bagi Anda.

Berapa banyak protein?
Kebanyakan orang Amerika mendapatkan 12-18 persen kalori dari protein. Dengan diet tinggi protein, mereka akan lebih banyak mendapatkan porsi makanan sumber protein. Protein mungkin hanya berjumlah setengah dari kalori per hari Anda. Kebanyakan kalori hewani ekstra  didapat dari daging, telur, dan keju. Sementara sering kali, diet membatasi ketat konsumsi sereal, beras, buah, dan sayuran. Lantas, mengapa diet in berhasil?

Bagaimana kerja diet protein?
Ketika Anda memotong konsumsi karbohidrat, Anda mungkin kehilangan lebih banyak berat badan karena mengalami kehilangan cairan tubuh. Lalu, dengan tanpa ekstra karbohidrat, tubuh mulai membongkar cadangan lemak sebagai kalori melalui mekanisme yang disebut ketosis. Ini akan membuat diet seakan mudah karena tak selalu merasa lapar. Sayangnya, kebanyakan proses ketosis membuat seseorang mengalami sakit kepala, iritabilitas, mual, gangguan ginjal, hingga palpitasi jantung.

Apakah diet tinggi protein aman?
Banyak ahli medis kurang menyepakatinya.  The American Heart Association tidak merekomendasikan diet tinggi protein. Terlalu banyak lemak dari daging dan produk susu dapat meningkatkan kolesterol dan risiko serangan jantung.

Tidak makan sayuran dan beras-berasan juga dapat membuat tubuh kekurangan serat dan nutrisi penting. Bagaimanapun, diet tinggi protein memang dapat membantu melawan obesitas. Diet dalam takaran sedang, dengan memangkas lemak namun mengurangi karbohidrat besar-besaran, memang dapat saja efektif.  

Untuk memulai diet tinggi protein, ini yang harus Anda lakukan:
* Jadilah pemilih. Utamakan rencana diet tinggi protein rendah lemak, selain juga rendah karbohidrat. Hindari perencanaan diet yang ekstrim, misalnya dengan tidak makan daging berlemak namun tetap memakan dalam jumlah terbatas makanan sumber karbohidrat. Dokter akan lebih baik dalam memberikan perencanaan diet yang tepat.

* Pikirkan daging putih. Ayam dan unggas dapat saja menjadi menu utama diet tinggi protein. Jika Anda memilih protein putih, Anda juga dapat mengurangi  risiko makanan tinggi lemak. Untuk lebih mengurangi lemak, cobalah menghilangkan bagian kulit yang banyak mengandung lemak tak baik.

* Kedelai juga tinggi protein. Tahu, burger tempe, tempe, dan makanan berbahan kedelai lainnya adalah nutrisi nabati yang kaya protein. Sebagai tambahan, makan 25 gram protein kedelai setiap hari untuk menurunkan kolesterol Anda.

* Banyak protein, banyak risiko? Beberapa komunitas kesehatan peduli akan diet tinggi protein, khususnya dengan diet tinggi protein jangka panjang. Diet yang tinggi lemak jenuh dan rendah serat (seperti juga diet tinggi protein) dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Risiko kesehatan potensial ketika menjalani diet tinggi protein dalam jangka panjang adalah osteoporosis (pengeroposan tulang) dan penyakit ginjal.

(Tabloid Nova/Laili)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau