Penyergapan Terduga Teroris di Poso

Kompas.com - 01/11/2012, 02:45 WIB

Poso, Kompas - Polisi menggelar operasi penegakan hukum terkait serangkaian aksi teror di Poso, Sulawesi Tengah. Satu terduga teroris tewas dan dua lainnya terluka dalam penyergapan yang diwarnai baku tembak di Desa Kalora, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Poso, Rabu (31/10).

Operasi penyergapan di Lorong Mawar Dusun III Desa Kalora, sekitar 200 meter dari jalan trans-Sulawesi, sejak pukul 05.00 Wita, itu dilakukan aparat gabungan Detasemen Khusus 88 Antiteror dan Brimob Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah serta Kepolisian Resor Poso. Namun, penyergapan itu mendapat perlawanan dari tiga terduga teroris yang berada di dalam rumah.

Walaupun sempat terjadi baku tembak, perlawanan para terduga teroris akhirnya dapat dilumpuhkan. Satu terduga teroris, yakni JB, akhirnya tewas. Sementara dua terduga teroris yang lain, Ce alias Nat dan M alias Rah, luka-luka. Korban tewas dibawa ke Palu, Sulawesi Tengah, dan selanjutnya diterbangkan ke Jakarta untuk diotopsi dan diidentifikasi di RS Polri Kramatjati. Dua korban luka dirawat di RS Bhayangkara, Palu.

Kepala Polda Sulteng Brigjen (Pol) Dewa Parsana di lokasi penyergapan mengatakan, polisi sudah memulai operasi penegakan hukum, terkait dengan serangkaian aksi teror termasuk penganiayaan hingga dua anggota Polres Poso, Brigadir Sudirman dan Brigadir Satu Andi Sapa, tewas.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen (Pol) Boy Rafli Amar, di Jakarta, mengatakan, lokasi kejadian juga memiliki akses untuk mencapai Gunung Biru yang diduga menjadi tempat pelatihan teroris.

Seusai penyergapan, tim Gegana Brimob Polda Sulteng menyisir lokasi dan menemukan 10 buah bom aktif, sebuah senjata api laras pendek, serta dua karung bubuk putih untuk bahan pembuatan bom, detonator, bahan kimia, dan sekarung pupuk urea. Dua bom diledakkan.

”Barang bukti yang ditemukan antara lain sepuluh buah bom aktif, dua karung serbuk putih untuk bahan pembuatan bom, sebuah senjata api, dan barang lainnya. Saat ini semua barang bukti diamankan oleh tim Inafis dan Labfor,” tutur Kapolda.

Camat Poso Pesisir Utara Zainal A Matu mengaku tidak terlalu mengetahui keberadaan tiga orang tersebut. Kepala Desa Kalora Sirfain mengatakan ketiga orang itu datang dalam dua hari terakhir. ”Saya tidak tahu soal mereka karena bertemu saja belum pernah. Saya cuma dikasih tahu Pak RT bahwa mereka baru datang dua hari lalu dan surat laporan tentang mereka pun belum saya terima,” kata Sirfain.

Ketua RT Dusun Tiga Sumardi mengatakan, saat datang dua hari lalu, salah seorang dari mereka melapor dan membawa sebuah KTP. Dalam KTP itu, tertera nama Farhan, lahir di Kolonodale, Kabupaten Morowali, pada 20 Januari 1988. Alamat di KTP ialah Desa Tabalu Kecamatan Poso Pesisir.

”Cuma KTP ini yang diberikan ke saya. Setelah melapor, saya hampir tidak pernah melihat mereka karena rumah ini seperti kosong. Saya juga tidak tahu apa aktivitas mereka. Rumah yang mereka tempati memang sudah lama kosong. Pemiliknya sudah pulang ke Jawa dan saya sudah tidak tahu siapa yang tinggal setelah itu,” kata Sumardi.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Ansyaad Mbai mengungkapkan, orang yang tewas ditembak di Poso itu diduga Jipo alias Ibeng. Jipo diduga buronan aksi terorisme di Bima, Nusa Tenggara Barat. Namun, teror di Poso tidak terkait konflik horizontal yang bersifat sektarian. Memang, ada upaya sekelompok teroris untuk menciptakan konflik horizontal seperti yang terjadi pada awal tahun 2000.

Sementara itu, Senator Amerika Serikat dari Partai Republik, Richard Green Lugar, seusai bertemu Wakil Presiden Boediono, mengapresiasi keberhasilan Indonesia memerangi terorisme. ”Indonesia memiliki pengalaman besar dan sukses dalam memerangi terorisme. Kami mengagumi kemampuan luar biasa dan keberhasilan Indonesia itu,” kata Lugar. (REN/GAL/WHY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau