Polda Metro Tingkatkan Binmas dan Intelijen

Kompas.com - 01/11/2012, 03:38 WIB

Jakarta, Kompas - Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Putut Eko Bayuseno akan meningkatkan fungsi pembinaan masyarakat dan intelijen. Hal ini untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dan deteksi dini masalah keamanan ketertiban masyarakat di Ibu Kota.

Penegasan jenderal bintang dua lulusan Akademi Kepolisian 1984 ini disampaikan setelah apel penghormatan pasukan pisah sambut Kepala Polda Metro Jaya di Lapangan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (31/10) sore. Ia didampingi mantan Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Untung S Radjab.

”Saya akan melanjutkan kebijakan beliau, yang mengedepankan fungsi binmas dan intelijen. Itu yang akan saya teruskan dan tingkatkan,” katanya.

Untung sebelumnya mengatakan, bertugas di Polda Metro Jaya itu ”ngeri-ngeri sedap” karena hampir setiap hari ada unjuk rasa. Untuk itu, yang pertama harus dilakukan adalah pembinaan personel polda. ”Pembinaan personel hendaknya menjadi lebih baik, operasional ditingkatkan, kemudian binmas juga ditingkatkan agar seluruh masyarakat bisa berpartisipasi terhadap keamanan di Jakarta,” kata Untung.

Putut Eko mengungkapkan, kegiatan binmas yang sudah dilaksanakan selama ini akan diteruskan. Anggota bintara pembina kamtibmas di tingkat kelurahan dan desa harus menyambangi, paling tidak dua rumah warga. ”Dengan demikian, kami bisa sentuh langsung masyarakat yang paling bawah. Bisa mengetahui masalah yang ada di tengah masyarakat. Sekaligus juga kami optimalkan fungsi deteksi dini. Kalau sudah mendapatkan informasi, kami bisa melakukan cegah dini,” katanya.

Dengan begitu, masalah kecil yang seharusnya bisa diselesaikan di tingkat kelurahan/desa benar-benar bisa diselesaikan di tingkat itu dengan sebaik-baiknya, tidak harus diselesaikan di pengadilan.

”Katakanlah pencuri satu ekor ayam yang harganya Rp 50.000, kalau diproses di pengadilan berapa biayanya, mungkin akan jutaan rupiah. Yah, yang seperti itu bisa diselesaikan di tingkat kelurahan dengan musyawarah. Alangkah indahnya penyelesaian dengan musyawarah. Masyarakat juga senang,” tuturnya.

Putut yakin kalau fungsi binmas berhasil, masyarakat akan sadar kamtibmas dan pada akhirnya kriminalitas di Ibu Kota juga akan menurun.

Kerja sama dengan Jokowi

Putut Eko juga memastikan akan bekerja sama tidak hanya dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, tetapi juga dengan semua pihak terkait, termasuk masyarakat. ”Kami ingin merangkul seluruh lapisan masyarakat di Jakarta untuk bersama-sama menciptakan Jakarta yang aman dan disiplin,” katanya.

Mantan ajudan presiden

Putut Eko pernah menjadi ajudan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2009). Ia juga pernah menjadi Wakil Kepala Polda Metro Jaya (2009), Kapolda Banten (selama 3 bulan pada 2011), dan Kapolda Jawa Barat (selama 17 bulan pada 2011-2012). Ia juga aktif berbahasa Inggris, Mandarin, Jawa, dan Manado.

Sementara itu, Untung S Radjab ketika disinggung kemungkinan dirinya ikut dalam Pilkada Jawa Timur 2013 menegaskan bahwa dirinya belum pernah mengumumkan hal itu.

”Tunggu sampai saya pensiun. Hari ini belum pensiun. Tanggal 1 November pensiunnya. Saya akan jawab kalau ditanya, kalau enggak ada yang tanya, ya enggak mengumumkan,” ujar Untung.(RTS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau