Badai sandy

Terowongan Kereta Api Masih Terendam Air

Kompas.com - 01/11/2012, 04:14 WIB

NEW YORK CITY, RABU - Pemerintah federal dan negara bagian di daerah bencana di Amerika Serikat terus bekerja keras, Rabu (31/10), untuk menyelamatkan para korban dan mulai memulihkan pelayanan dasar bagi publik setelah serangan badai Sandy. Namun, banyak terowongan kereta api bawah tanah masih terendam air.

Pemerintah Negara Bagian New Jersey, Selasa malam, mengerahkan pasukan Garda Nasional ke kota Hoboken untuk menyelamatkan ribuan warga yang terjebak banjir di rumah mereka. Pasukan militer itu juga dikerahkan untuk membantu memompa air banjir yang menggenangi rumah-rumah penduduk.

Di Staten Island, New York, polisi mengirim helikopter untuk menjemput penduduk yang terjebak di atap rumah mereka karena banjir.

Gubernur New Jersey Chris Christie menyatakan akan meminta secara langsung kepada Presiden Barack Obama agar memerintahkan Korps Zeni Angkatan Darat AS untuk membantu membangun kembali kawasan pesisir yang luluh lantak diterjang Sandy, Senin malam lalu.

Presiden Obama dijadwalkan mengunjungi lokasi bencana di dekat Atlantic City, New Jersey, Rabu sore waktu setempat. Sehari sebelumnya, Christie memuji reaksi cepat Obama dalam menangani dampak bencana.

Beberapa infrastruktur dasar, seperti jalan bebas hambatan di Negara Bagian Connecticut dan sejumlah jembatan di Sungai Hudson dan Sungai East, New York, sudah dibuka.

Fokus upaya pemulihan kembali ini memang dipusatkan di New York City, kota yang menjadi pusat aktivitas ekonomi AS.

Dua bandar udara internasional di dekat kota itu, yakni Bandara Internasional John F Kennedy dan Bandara Internasional Newark Liberty, mulai dibuka lagi pada Rabu pukul 07.00. Namun, operasional bandara, termasuk penerbangan reguler, diperkirakan belum sepenuhnya normal.

Satu bandara lagi, yakni Bandara La Guardia, masih belum bisa dioperasikan karena air menggenangi seluruh kawasan landasannya.

Pemerintah New York City juga mulai mengoperasikan bus- bus kota pada Selasa malam meskipun belum melayani semua rute.

Bursa Efek New York (NYSE) juga resmi dibuka kembali oleh Wali Kota New York City Michael Bloomberg, Rabu pagi, setelah tutup dua hari berturut-turut.

Masih tergenang

Perusahaan kereta api Amtrak juga berencana mengoperasikan kembali layanan antarkota di kawasan timur laut AS. Namun, kereta api tetap belum bisa masuk ke Penn Station di pusat kota New York karena terowongan bawah tanah masih digenangi air.

Sebanyak 10 terowongan kereta api bawah tanah (subway) di bawah Sungai East masih terendam air.

Aliran listrik juga belum sepenuhnya pulih di kota itu. Perusahaan listrik Consolidated Edison menyatakan, dibutuhkan waktu 4-7 hari sampai aliran listrik pulih total di New York.

Kondisi yang masih darurat itu membuat kantor cabang Bank Negara Indonesia (BNI) dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) memindahkan sementara lokasi kantor dari sebelumnya di Lower Manhattan ke kawasan Forest Hills, Queens.

”Apabila kondisi sudah memungkinkan, yakni listrik sudah menyala, kami akan kembali beroperasi dari kantor di Broadway, Manhattan,” kata Kepala Kantor Cabang BNI New York Mohammad Yudayat.

Badai Sandy makin melemah, tetapi tetap menebar hujan, angin kencang, dan badai salju di sejumlah negara bagian. Tim pencari menemukan sedikitnya 55 korban tewas, sementara lebih dari 8 juta bangunan kehilangan aliran listrik hingga ke Negara Bagian Michigan di kawasan Midwest.(AP/AFP/Reuters/DHF/IDR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau