Api Masih Mengancam

Kompas.com - 02/11/2012, 03:02 WIB

Jakarta, Kompas - Kebakaran kembali melanda permukiman padat. Kali ini terjadi di Kelurahan Cempaka Baru, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (1/11). Api yang berkobar tiga jam itu menghanguskan 86 rumah dan membuat 650 orang kehilangan tempat tinggal. Ini merupakan kebakaran besar pertama di era Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama.

Kepala Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Jakarta Pusat Madanih mengatakan, proses pemadaman api sulit dilakukan karena lokasi kebakaran di permukiman padat. Akses jalan ke permukiman itu hanya berupa gang selebar dua meter.

Sebagian bangunan terbuat dari tripleks dan bambu sehingga mudah terbakar. Sejumlah rumah juga mempunyai usaha konfeksi sehingga banyak gulungan kain yang mudah terbakar.

”Kami punya kendala ketersediaan air karena di sungai atau selokan sedang susut. Di Sungai Sentiong, air bercampur dengan endapan lumpur sehingga harus disaring terlebih dulu sebelum disedot,” kata Madanih.

Tercatat ada 40 mobil pemadam yang diturunkan untuk memadamkan api, termasuk dua mobil penyaring lumpur dan penyedot air dari sungai.

Sumber api, menurut Wiharna, warga RT 001 RW 002, berasal dari rumah kosong yang ditinggalkan penghuninya yang sedang bekerja. Api berkobar cepat dan merembet ke rumah tetangga. Angin juga membuat api semakin cepat membesar dan merembet ke rumah lain.

Lurah Cempaka Baru Asep Mulyawan mengatakan, kebakaran besar serupa pernah melanda daerah ini tahun 1997.

Wali Kota Jakarta Pusat Saefullah berharap warga ikut membantu menjaga permukiman dengan mematikan kompor jika bepergian. Peralatan listrik juga harus menggunakan kabel standar.

Kemarin, pihak kelurahan, kecamatan, dan Pemerintah Kota Jakarta Pusat langsung menyiapkan sejumlah kebutuhan logistik tanggap darurat bagi korban.

Camat Kemayoran Marhayadi menerangkan, dapur umum dan posko kesehatan juga telah didirikan tidak jauh dari lokasi kebakaran. Adapun untuk pengungsian digunakan dua rumah ibadah di sekitar lokasi kebakaran.

Pemkot Jakarta Pusat juga menyiapkan air bersih dan kebutuhan sekolah untuk anak-anak korban kebakaran.

Dua Kebakaran di Jaktim

Menjelang sore dan malam, dua kebakaran juga terjadi di Jakarta Timur. Kebakaran pertama terjadi di gudang penyimpanan tabung gas di Jalan Dewi Sartika dan kedua terjadi di RS Persahabatan.

Kebakaran di Dewi Sartika diduga akibat tabung gas bocor. Sumber api muncul dari gudang penyimpanan tabung gas 3 kilogram. Api kemudian menyambar ke kios di kanan dan kirinya yang digunakan tempat tinggal dan tempat usaha,

Tak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Kerugian ditaksir mencapai Rp 300 juta.

Kebakaran di RS Persahabatan terjadi pukul 19.17 di lantai tiga bangunan rumah sakit, di area UGD, ruang istirahat dokter, dan staf rumah sakit. ”Api dapat dipadamkan menggunakan alat pemadam ringan di rumah sakit itu,” kata petugas piket Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Jakarta Timur Agus. (ART/MDN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau