Israel Akui Bunuh Abu Jihad

Kompas.com - 03/11/2012, 02:55 WIB

JERUSALEM, JUMAT - Pemerintah Israel resmi mengonfirmasikan keterlibatan mereka dalam operasi rahasia yang menewaskan Wakil Ketua Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Khalid al-Wazir, atau dikenal juga sebagai Abu Jihad, pada tahun 1988 di Tunis, Tunisia.

Pengakuan itu membenarkan kecurigaan selama ini bahwa Israel berada di balik pembunuhan Wazir. Informasi rincian operasi pembunuhan Wazir oleh pasukan komando Sayeret Matkal dan dinas intelijen Mossad dimuat dalam pemberitaan harian Yediot Ahronot.

Surat kabar itu memuat artikel hasil wawancara dengan salah satu eksekutor, anggota pasukan komando, pada 12 tahun lalu. Rincian itu dipublikasikan setelah mendapat izin dari lembaga sensor militer negeri itu.

Rincian lain peristiwa itu juga diungkap majalah kemiliteran, Israel Defense, yang menyebut operasi rahasia pembunuhan Wazir itu dilakukan dengan sangat hati-hati dan dipersiapkan berbulan-bulan.

Operasi rahasia pembunuhan tokoh pendiri Fatah dan wakil pemimpin PLO, Yasser Arafat, itu juga melibatkan dua pejabat tinggi Israel saat ini, Menteri Pertahanan Ehud Barak dan Wakil Perdana Menteri Moshe Yaalon.

Pengakuan eksekutor

Dalam wawancara dengan Nahum Lev, salah seorang pengeksekusi Wazir, anggota pasukan komando, terungkap bahwa tim pengeksekusi terdiri dari 26 personel gabungan, berangkat dari sebuah pos komando di wilayah Israel.

Mereka menumpang perahu karet menyeberangi Laut Tengah dan mendarat di pantai Tunisia.

”Saya tembak dia tanpa ragu- ragu. Dia terlibat dalam banyak aksi mengerikan yang membahayakan warga sipil. Namun, saat itu saya berusaha hati-hati sekali tidak melukai istrinya yang juga muncul ketika itu,” ujar Lev.

Wawancara digelar 12 tahun lalu. Lev sendiri diketahui tewas dalam sebuah kecelakaan bermotor pada tahun 2000.

Menurut majalah Israel Defense, Lev beraksi bersama seorang rekannya yang menyamar menjadi wanita.

Lev membawa kotak besar coklat berisi senjata berperedam suara. Bersama, mereka berpura- pura menjadi pasangan turis yang tersesat.

Si ”turis perempuan” terlebih dahulu mengalihkan perhatian pengawal Wazir dengan menanyakan arah jalan. Saat sang pengawal lengah, Lev melepaskan tembakan.

Sementara itu, tim lain mengeksekusi pengawal dan tukang kebun. Menurut pengakuan Lev, Wazir sempat mencoba meraih senjatanya, tetapi kalah cepat.

Untuk ”memverifikasi” Wazir telah benar-benar tewas, tim lain menembak tubuh tokoh perlawanan rakyat Palestina tersebut berkali-kali.

Curiga

Pihak Palestina telah lama mencurigai Israel terlibat dalam banyak operasi serupa selama ini. Dengan terungkapnya rincian pembunuhan Wazir tersebut, Abbas Zaki, pejabat tinggi di jajaran Presiden Palestina Mahmoud Abbas, mendesak Pemerintah Tunisia bersama-sama menyeret Pemerintah Israel ke pengadilan.

Dalam kesempatan terpisah, putra Wazir, Jihad al-Wazir, yang sekarang menjabat Kepala Bank Sentral Palestina, mengaku tidak ada komentar dari pihak keluarga. (AP/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau