Penyebab Gagal Diet Usai Melahirkan

Kompas.com - 03/11/2012, 10:55 WIB

KOMPAS.com - Usai melahirkan bentuk tubuh tak kembali seperti semula? Tentu tak nyaman bagi para ibu. Tapi tahukah Anda, menurut teori medis, berat badan saat hamil seharusnya dapat turun mencapai 8,5 kg di bulan kedua pasca melahirkan. Hal ini sebagaimana dilaporkan oleh Subcomittee on Nutrition During Lactation.

“Mengurangi 25 persen yang dimakan tidak akan membuat bayi kurang gizi,” ungkap dr Grace Judio-Kahl, MH, CHt, konsultan pengontrol berat badan dari Shape Up Indonesia.

Hasilnya, Anda juga akan dapat mengurangi 0,6 hingga 0,8 kg per bulan  pada 4 hingga 6 bulan pertama. “Tapi memang jika ingin mengurangi makan dan berolah raga untuk pembentukan tubuh kembali, aman dilakukan setelah bulan kedua atau ketika memasuki bulan ketiga pasca melahirkan karena tubuh butuh masa penyembuhan dan adaptasi,” sambungnya.

Lantas apa yang membuat para Ibu gagal menurunkan berat badan kendati telah  hampir setahun menyusui?

Khawatir ASI terhenti
Beberapa orang kerap mengaitkan bayi baru lahir yang kerap menangis dengan produksi ASI yang berkurang. Lalu ujung-ujungnya, sang ibu yang  dituding kurang memperhatikan kebutuhan gizi saat menyusui.

“Padahal proses produksi ASI bukan seperti itu. Makan banyak lantas ASI-nya lancar,” ungkap dr Grace.

Banyaknya mitos yang berkembang ini menimbulkan pemahaman yang keliru di kalangan para perempuan. Padahal yang paling banyak berperan agar ASI lancar adalah kondisi psikis Anda. “Jika Anda rileks, tidak panik, bahagia, otak akan mengirim sinyal untuk produksi oksitosin yang berperan membuat ASI mengucur keluar,” ungkap Grace.

Inilah sebabnya dokter kerap menyarankan para ibu untuk meneteki langsung bayinya karena proses ini juga menstimulus otak dan membuat ASI lancar.

Kebutuhan makan terbatas
Saat menyusui bukan berarti saatnya makan sebanyak-banyaknya demi anak. Menurut dr Grace, kebutuhan badan ibu saat menyusui hanya sekitar 1800 hingga 2000 kal. Sedangkan kebutuhan tambahan untuk produksi ASI adalah 300 hingga 700 Kal. “Inilah sebenarnya kunci yang dipegang untuk penurunan berat badan pasca melahirkan,” tegasnya.

Jika Anda sulit menakar berapa porsi 2100 Kal tersebut, cukup ikuti sinyal yang diberikan tubuh. “Makan jika Anda merasa lapar saja dan kurangi ¼ dari yang dibutuhkan,” tambah dr Grace.

Sisanya, makan dalam porsi seimbang antara lauk-pauk, sumber karbohidrat, dan sayur. Bagi piring dalam tiga bagian, dan penuhi dengan porsi seimbang jenis makanan tersebut.

“Ingat, bayi hanya butuh karbohidrat baik, protein, dan lemak baik. Mereka tidak butuh gula, tepung dan minyak,” ujar dr Grace menekankan.

Mengurus bayi sendiri juga menguruskan
Selain mengurangi porsi makanan, hal lain yang akan membantu penurunan badan pasca melahirkan sukses adalah mengurus bayi sendiri. “Mengurus bayi sendiri dapat membakar 175 kalori/jam pada wanita dengan berat hingga 70 kg. Ini lebih besar dari kalori yang dikeluarkan saat jalan-jalan di mal per jam,” ungkapnya.

Sebaiknya pertimbangkan untuk secara maksimal mengurus bayi sendiri saat sedang cuti melahirkan. Dan setelahnya, Anda masih bisa mengikutsertakan bayi dalam proses pelangsingan seperti berolah raga dengan buah hati.

Selamat mencoba!

(Tabloid Nova/Laili)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau