Perubahan nama

Pekerja dan Warga Gresik Tolak Nama Semen Indonesia

Kompas.com - 05/11/2012, 09:47 WIB

GRESIK, KOMPAS.com — Spanduk berisi penolakan terhadap perubahan Semen Gresik menjadi Semen Indonesia terpasang di titik-titik staregis di Gresik, Jawa Timur. Di sisi kiri spanduk ada logo Serikat Pekerja Semen Gresik (SPSG) dan di bawah tulisan isi spanduk tertulis SPSG mitra strategis untuk meningkatkan kompetensi dan kinerja perusahaan ke jenjang lebih tinggi.

Dalam spanduk yang dipasang di jalan masuk kantor bupati Gresik tertulis "Seluruh Pegawai dan Masyarakat Gresik Menolak Semen Indonesia". Di perempatan Jalan Panglima Sudirman berbunyi "Jangan Korbankan Aset Semen Gresik menjadi Semen Indonesia". Di perempatan Jalan Dr Soetomo tertulis "Semen Gresik = Sejarah Gresik dan merupakan tanah warisan Wali Songo". Di Bundaran Gresik Kota Baru berbunyi "Semen Gresik adalah Kebanggaan Pegawai dan Masyarakat Gresik".  Spanduk itu mulai terlihat hari Minggu (4/10/2012).

Sebelumnya, sejumlah tokoh dari berbagai organisasi masyarakat di Gresik menyatakan keberatan dengan perubahan nama Semen Gresik menjadi Semen Indonesia yang rencananya akan diluncurkan pada 12 Desember 2012.

Perubahan nama itu dinilai mengingkari sejarah, mengabaikan legenda, dan mengabaikan masyarakat yang membesarkannya.

Tokoh yang menyampaikan keberatan adalah KH Masyur Shodiq dari Majelis Ulama Indonesia Gresik, Mohammad In'am (Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah Gresik), Soetanto Soepiadhy (Ketua Program Study Doktor Ilmu Hukum Universitas 17 Agustus 1945), serta Hadi Subianto dan Misbach dari Yayasan Makam Sunan Giri.

Keberatan itu juga sudah disampaikan ke Bupati Gresik pada 18 Oktober lalu.

Menurut Mohammad In'am, Ketua PDM Gresik, perubahan nama Semen Gresik menjadi Semen Indonesia mengingkari sejarah. "Saya sangat tidak setuju dengan penggantian nama Semen Gresik menjadi Semen Indonesia. Perubahan itu merupakan pengkhianatan," katanya.

Umar Zainuddin mewakili Masyarakat Pecinta Sejarah dan Budaya Gresik (Mataseger) juga tidak setuju perubahan nama itu. Ia menyatakan perubahan nama itu sudah menyalahi sejarah, mengingat nama itu diberikan presiden pertama Republik Indonesia pada peresmian Pabrik Semen Gresik, 7 Agustus 1957.

Umar menceritakan, masyarakat Gresik, terutama di sekitar daerah Pegiren (area Sunan Giri), sangat mendukung berdirinya Semen Gresik kala itu. "Saya masih ingat betul di kala Semen Gresik berdiri. Beberapa warga masyarakat rela pindah dengan bergotong royong memikul rumah-rumah yang berada di lokasi pabrik semen untuk berpindah ke lain tempat. Sampai di situlah kecintaan masyarakat Gresik terhadap Semen Gresik," tuturnya.

Mochammad Thoha dari Nahdlatul Ulama Gresik meminta agar pergantian nama Semen Gresik menjadi Semen Indonesia dipertimbangkan dan direnungkan kembali. Nama Semen Gresik berangkat dari legenda dan tercatat dalam sejarah Sunan Giri dibekali segenggam tanah oleh Maulana Ishak yang kemudian menjadi lokasi Giri Kedaton. Gresik merupakan lokasi penggalian bahan Semen Gresik.

Menurut Thoha, "segenggam tanah" berarti perekat nasional yang terimplementasi dengan terbangunnya Gedung DPR RI, Monumen Nasional, Masjid Istiqlal, Jembatan Semanggi, dan restorasi Borobudur.

Penamaan Semen Gresik oleh Presiden Soekarno. Saat itu tidak dinamakan Semen Indonesia, padahal pada periode yang sama Soekarno juga menasionalisasi perusahaan lain, seperti Pelayaran Nasional (Pelni) dan Perusahaan Tjat Nasional (Patna).

"Hal ini karena Semen Gresik merupakan kebanggaan nasional," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau