Terbukti! Sel Lemak Pun Butuh Tidur

Kompas.com - 05/11/2012, 14:57 WIB

KOMPAS.com - Selama ini, kita sudah tahu akibat kekurangan tidur pada kemampuan kognitif, mental dan stabilitas emosi seseorang. Kita juga tahu hubungan gangguan tidur dengan berbagai resiko kesehatan seseorang.

Kini, sebuah penelitian yang diterbitkan di the Annals of Internal Medicine edisi Oktober, mengungkapkan hubungan molekuler antara kekurangan tidur dengan mekanisme pengaturan energi tubuh. Gangguan pada sistem ini akan langsung menyebabkan peningkatan berat badan, diabetes dan gangguan kesehatan serius lainnya.

Penelitian yang dilakukan di University of Chicago Medicine ini menunjukkan bahwa efek kurang tidur pada metabolisme energi ternyata sama pentingnya dengan akibat kurang tidur pada kemampuan otak.

Sel Lemak

Jika sel lemak tak mendapat istirahat yang cukup, ia akan kehilangan 30 persen kemampuannya untuk merespon insulin, hormon yang mengatur energi tubuh.

Banyak orang beranggapan sel lemak itu sesuatu yang jahat dan harus dikurangi. Tapi sebenarnya ia penting untuk tubuh kita. Lemak tubuh atau disebut juga sebagai jaringan adiposa menyimpan dan melepaskan energi. Sel-sel lemak membantu melenyapkan asam lemak dan lipid yang merugikan dari peredaran darah. Ketika sel lemak tidak dapat merespon insulin secara efektif, lipid akan terlepas di peredaran darah dan dapat menimbulkan komplikasi kesehatan yang serius.

Penelitian

Peneliti merekrut 7 orang muda yang langsing dan sehat. Mereka diukur aktivitas sel lemaknya setelah cukup tidur dan kurang tidur. Pertama mereka diminta untuk tidur 8,5 jam selama 4 hari, lalu setelah empat minggu mereka diminta untuk tidur selama 4,5 jam tiap malamnya selama 4 hari.

Pada hari keempat, setiap periode para peneliti akan mengukur sensitivitas glukosa darah dan mengambil jaringan adiposa dari area pusar untuk diukur respon sel-sel lemak tersebut terhadap insulin.

Setelah kekurangan tidur sebanyak 4 malam, respon tubuh terhadap insulin menurun sebanyak 16%. Sensitivitas sel-sel lemak terhadap insulin bahkan menurun 30%. Penurunan ini mirip seperti ketika sel-sel lemak orang gemuk dibandingkan dengan yang langsing atau orang yang sehat dibandingkan dengan penderita diabetes.

Implikasi

Tidur selama 4-5 jam setiap malam sudah menjadi kebiasaan yang wajar di kehidupan modern seperti Jakarta. Walau banyak orang mengklaim mampu hidup sehat dan produktif dengan kondisi ini, sebenarnya tubuh kita tidak.

Gangguan pada fungsi-fungsi sel lemak berakibat langsung pada sistem metabolisme dan peningkatan berat badan. Sel-sel lemak selain mengatur metabolisme, juga mengatur selera makan.

Penelitian ini juga membuka koridor baru bagi penelitian-penelitian gangguan tidur lain. Misalkan respon sel-sel lemak terhadap gangguan tidur seperti sleep apnea. Atau bagaimana jika penderita diabetes atau obesitas dikurangi tidurnya, bagaimana akibatnya pada kondisi penyakitnya.

Jika selama ini dokter menasehati penderita diabetes untuk mengatur makan dan berolah raga, kini sebaiknya kecukupan tidur pun diperhatikan. Atau jika ingin langsing, akan jauh lebih mudah menurunkan berat badan jika selain mengatur diet dan berolah raga, Anda juga memperhatikan kesehatan tidur.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau