JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Joko Widodo diminta menyesuaikan ide dengan kenyataan di lapangan. Sebab, semua yang disampaikan Jokowi merupakan bentuk ideal, yang kadang tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
Misalnya, kata anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Selamat Nurdin, terkait rencana Jokowi meremajakan angkutan kota dalam lima tahun sekali.
"Kalau bicara ideal ya memang seharusnya begitu. Jangan melihat tahun operasi, tapi jumlah kilometer yang sudah ditempuh," kata Selamat saat ditemui Kompas.com, Selasa (6/11/2012), di gedung DPRD DKI Jakarta.
Ia menjelaskan, berdasarkan perhitungan, para sopir angkutan kota, masa break event point (BEP) baru dapat dicapai setelah angkutannya beroperasi selama tujuh tahun. Oleh karenanya, Selamat meminta Jokowi mengkaji secara dalam sebelum mengeluarkan sebuah wacana tertentu.
"Perhitungkan BEP si pemilik mobilnya. Idealita harus disesuaikan oleh realita di masyarakat," tandasnya.
Sebelumnya, Jokowi pernah menyatakan bahwa semua alat transportasi umum harus diremajakan setiap lima tahun sekali. Hal tersebut berlaku untuk semua jenis alat transportasi umum, baik bus transjakarta, kopaja, maupun metromini.
Pernyataan itu merupakan buntut dari keprihatinan Jokowi setelah menilik angkutan kota di Jakarta yang telah berumur 20 hingga 30 tahun. Menurutnya, peremajaan angkutan publik di DKI Jakarta sangatlah penting karena menyangkut keselamatan masyarakat.
Berita terkait lainnya dapat diikuti di topik: 100 HARI JOKOWI-BASUKI.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang