MEDAN, KOMPAS.com — Banjir di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, masih merendam sekitar 2.000 rumah di enam kecamatan, Selasa (6/11/2012). Tinggi banjir yang terjadi sejak Minggu itu kini mencapai 1,5 meter.
Wakil Bupati Serdang Bedagai Soekirman mengatakan, penyebab banjir antara lain hujan lebat, pendangkalan Sungai Sei Rampah, dan alih fungsi lahan. Lahan hutan yang rusak akibat pembalakan liar atau beralih menjadi perkebunan sawit turut menjadi pemicu.
Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumatera Utara Timbas Prasad Ginting keberatan jika perkebunan kelapa sawit dituding sebagai penyebab banjir. Menurut dia, banjir disebabkan oleh anomali cuaca, pembalakan hutan di daerah hulu, dan pendangkalan sungai.
"Memang ada lahan yang beralih menjadi kebun kelapa sawit. Tapi, perlu dilihat dulu betul tidaknya perkebunan kelapa sawit mana yang menyebabkan banjir. Sebab, kelapa sawit banyak menyerap air," tuturnya.
Menurut Soekirman, perkebunan kelapa sawit memang menyerap banyak air, tetapi tidak dapat meredam larian air (run off) karena tidak memiliki belukar. Berbeda dengan hutan yang semak belukarnya turut menghambat larian air.
Dia menambahkan, alih fungsi lahan menjadi kebun kelapa sawit memang turut andil dalam banjir. Dia mencontohkan, di Desa Cempedak Lobang terdapat sedikitnya 200 hektar lahan yang beralih menjadi perkebunan kelapa sawit sejak 15 tahun lalu. Desa ini merupakan yang terparah terkena banjir.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang