SERDANG BEDAGAI, KOMPAS.com-Warga Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, menggunakan batang pisang sebagai rakit untuk menyisati bencana banjir.
Rakit ini efektif untuk menopang aktivitas warga meskipun sekadar untuk melihat kondisi rumah atau untuk meminta bantuan logistik. Hal itu antara lain dilakukan Yusuf Lubis (29), warga Desa Sei Rampah yang memilih bertahan di rumahnya.
Dia tidak bersedia mengungsi meskipun banjir setinggi 1,5 meter mengepung rumahnya. "Anak saya tidak mau ikut mengungsi. Tidak mungkin saya meninggalkannya sendirian di rumah. Makanya saya bertahan di rumah," ujarnya, Selasa (6/11/2012).
Untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan atau obat-obatan, Yusuf menggunakan rakit dari batang pisang. Lima batang pisang dia kaitkan dengan sebatang bambu. Dengan rakit inilah dia bermobilisasi. Rakit itu kadang dia lapisi tikar plastik dan bantal untuk ditiduri anaknya, Santi (9).
Puluhan warga lainnya menggunakan rakit batang pisang ini untuk mengambil air bersih. Dengan meletakkan ember di atas rakit, mereka membelah banjir menuju posko tempat bantuan air bersih disediakan. Tak sedikit anak-anak usia sekolah dasar bermain banjir sambil menaiki rakit bambu ini.
"Inilah 'perahu' kami. Soalnya kami tak aada perahu karet," kata Romi Nasution (43). Untuk membantu aktivitas warga, Kecamatan Sei Rampah mengoperasikan dua perahu karet.
Tapi tentu saja itu tidak mencukupi untuk melayani semua warga. Nah, rakit batang pisang menjadi salah satu solusinya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang